Lonjakan Klaim Pengangguran di Inggris Kian Meningkat

Negara Eropa yang ramah pengangguran adalah Inggris. Disana seseorang bisa mendapatkan tunjangan yang cukup besar. Jumlahnya sendiri lumayan sih, hampir Rp 1,3 jutaan per minggunya. Untuk tunjangan anak-anak juga disediakan pemerintah dengan jumlah yang lebih sedikit.

0
ilustrasi via en as com
ilustrasi via en as com

KabarUang.com , London – Negara Eropa yang ramah pengangguran adalah Inggris. Disana seseorang bisa mendapatkan tunjangan yang cukup besar. Jumlahnya sendiri lumayan sih, hampir Rp 1,3 jutaan per minggunya. Untuk tunjangan anak-anak juga disediakan pemerintah dengan jumlah yang lebih sedikit.

Bagi pengangguran di inggris pemerintah juga akan membantu mengusahakan adanya hunian. Jadi, tak hanya bisa menganggur dengan nikmat dan dibayar, seseorang juga bisa mendapatkan bantuan rumah dengan syarat tertentu.

Klaim Inggris untuk tunjangan pengangguran tersebut melonjak drastis ke level rekor tertingginya pada April. Hal itu disebabkan karena kebijakan pembatasan di seluruh negeri yang meluluhkan ekonomi negara.

Baca Juga  Para Pelaku Ekonomi Sarankan Pemerintah Lakukan Interversi Moneter Demi Selamatkan Rupiah

Dari data yang dilansir dari Financial Times, jumlah penuntut klaim pengangguran melonjak 856.481 atau 69 persen pada April, dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Kantor Statistik Nasional (ONS) Inggris mencatat peningkatan itu paling tajam di barat daya dan tenggara Inggris.

Data sementara yang terpisah menunjukkan bahwa jumlah karyawan yang dibayar di Inggris turun tajam pada bulan April. Hal tersebut memberikan indikasi awal skala kehilangan pekerjaan langsung akibat dari pembatasan pandemi Covid-19 di seluruh negeri.

ONS mengatakan jumlah orang yang dibayar oleh pengusaha melalui skema Pay As You Earn turun 1,6 persen antara Maret dan April. Sementara 1,2 persen tahun-ke-tahun (yoy), setelah lima tahun pertumbuhan stabil. Gaji rata-rata juga turun, turun 0,9 persen yoy.

Baca Juga  Pemerintah Coba Atur Pajak Untuk Netflix dan Spotify

Angka-angka tersebut adalah perkiraan awal berdasarkan data real time yang dikumpulkan oleh HM Revenue and Customs, dan diterbitkan oleh ONS berdasarkan percobaan. Perkiraan awal menunjukkan jumlah jam kerja di Inggris turun dalam dua minggu terakhir setelah pembatasan dilakukan. Jumlah waktu yang dihabiskan bekerja turun menjadi sekitar 25 persen di bawah level normal.

“Ini adalah penurunan yang sangat besar dan bukti bahwa pemilik usaha menempatkan staf cuti dan atau memotong jam dari mereka yang masih bekerja,” ujar wakil ahli statistik di ONS, Jonathan Athow seperti dikutip Guardian, Selasa (19/5).

Baca Juga  Selebritas Populer Pamer Saldo ATM, Ternyata Saldo Tak Terdaftar Pajak

Dia mengatakan sektor dengan penurunan terbesar dalam jam kerja adalah hotel, restoran, dan konstruksi, yang mengalami penurunan terbesar dalam kegiatan ekonomi. Jam pelayanan kesehatan secara umum tidak berubah.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here