Dirut Garuda Indonesia Akui Belum Rumahkan Pilot dan Pramugarinya

Pandemi virus corona atau Covid-19 saat ini sudah berdampak kepada industri penerbangan karena menurunnya jumlah penumpang yang signifikan. Sejumlah opsi dikabarkan akan dilakukan maskapai seperti mulai merumahkan pilot dan pramugarinya.

0
ilustrasi via  indopolitika com
ilustrasi via indopolitika com

KabarUang.com , Jakarta – Pandemi virus corona atau Covid-19 saat ini sudah berdampak kepada industri penerbangan karena menurunnya jumlah penumpang yang signifikan. Sejumlah opsi dikabarkan akan dilakukan maskapai seperti mulai merumahkan pilot dan pramugarinya.

Namun, hal tersebut belum menjadi pilihan bagi Garuda Indonesia. “Belum ada merumahkan pilot dan pramugari,” kata Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra.

Meskipun begitu, Irfan mengakui virus corona semenjak mewabah sangat berdampak kepada penurunan jumlah penumpang. Irfan menuturkan, bahkan akibatnya maskapai sudah mengurangi sekitar 50 persen frekuensi penerbangan.

Baca Juga  APBN 2020 Dorong Untuk Dukung Pencapaian Prioritas Pembangunan Nasional

Sementara itu, Ketua Umum Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Denon Prawiratmadja menuturkan, upaya maskapai untuk mengurangi beban operasional saat ini terbilang berat. Pasalnya, menurut Denon, penurunan aktivitas penerbangan rata-rata hingga 50 persen.

Denon menilai hal tersebut makin berat dengan menghadapi situasi ekonomi global. “Kenaikan nilai tukar mata uang dolar AS sampai tembus Rp 16 ribu per USD. Yang bisa maskapai lakukan adalah mengurangi semua biaya operasional termasuk beberapa opsi terhadap karyawan,” ujar Denon.

Untuk itu, Denon meminta pemerintah segera memberikan insentif untuk maskapai, khususnya selama menghadapi kerugian saat pandemi virus corona atau Covid-19 melanda. Menurut Denon, insentif diperlukan untuk menyelamatkan industri penerbangan agar tetap eksis, baik saat ini maupun setelah pandemi corona selesai. “Yang kami harapkan adalah penundaan pembayaran PPh,” tutur Denon.

Baca Juga  Citibank Indonesia Bukukan Laba Bersih Sebanyak Rp 3 Triliun Sepanjang Tahun 2019

Denon menjelaskan, keringanan penangguhan bea masuk impor suku cadang, penagguhan biaya bandara dan navigasi yang dikelola BUMN, serta pemberlakuan diskon biaya bandara yang dikelola Kementerian Perhubungan juga diperlukan. Selain itu, perpanjangan jangka waktu berlakunya pelatihan simulator maupun pemeriksaan kesehatan bagi awak pesawat turut dibutuhkan.

Denon memprediksi penuntasan pandemi corona jika makin tidak pasti akan membuat industri penerbangan makin terpuruk. “Bahkan, sebagiannya akan tidak beroperasi karena bangkrut,” ujar Denon.

Baca Juga  Bank Permata Jalin Kemitraan Dengan Chandra Asri Petrochemical Untuk Tandatangani Term Loan Facility

Meskipun begitu, Denon memahami wabah Covid-19 memang melumpuhkan hampir semua aktivitas perekonomian. Namun, Denon menilai industri penerbangan nasional saat ini sudah sangat terpuruk.

“Jika tidak ada respons positif dari pemerintah yang cepat maka dipastikan akan terjadi tindakan perumahan maupun PHK karyawan sebagai upaya penyelamatan,” ungkap Denon.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here