Pemberlakuan Elpiji Tertutup Masih Belum Dijalankan, Pemerintah Perlu Kaji Ulang Data

Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan pemberlakukan subsidi elpiji tertutup masih belum akan dilakukan segera. Ia mengatakan masih membutuhkan waktu untuk mengkaji opsi apa yang akan dipakai pemerintah untuk penyaluran elpiji bersubsidi ini.

0
ilustrasi via cnbc indonesia com
ilustrasi via cnbc indonesia com

KabarUang.com , Jakarta – Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan pemberlakukan subsidi elpiji tertutup masih belum akan dilakukan segera. Ia mengatakan masih membutuhkan waktu untuk mengkaji opsi apa yang akan dipakai pemerintah untuk penyaluran elpiji bersubsidi ini.

Arifin tak menampik bahwa harga impor elpiji saat ini masih tinggi, mengingat adanya ketegangan di Timur Tengah. Namun, kondisi tersebut kata Arifin tak serta merta membuat pemerintah mengambil keputusan untuk mengubah skema penyaluran.

“Kami masih mengkaji sistem mana untuk mencegah perembesan elpiji bersubsidi ini,” ujar Arifin di Komisi VII DPR RI, Senin (27/1).

Baca Juga  Pertamina Pecahkan Rekor Muri Berhasil Instalasi Gas Elpiji Non Subsidi

Arifin menjelaskan pihaknya perlu melakukan pembahasan yang detail mengenai skema penyaluran. Jangan sampai, opsi yang dipilih pemerintah malah tidak tepat sehingga malah menimbulkan gejolak.

“Saya juga perlu melakukan pembahasan secara detail dengan stakeholder terkait soal ini. Apalagi ini persoalan data siapa siapa saja yang berhak menerima,” ujar Arifin.

Ia juga mengatakan dari uji coba yang sempat dilakukan masih ditemukan para warga yang kebingungan dalam penggunaan kartu. Ia juga menjelaskan apabila ada opsi bantuan langsung tunai maka perlu juga sosialisasi yang matang.

Baca Juga  KESDM Targetkan Tahun 2022 Ekspor Barang Setengah Jadi Dan Jadi Kebut Pengerjaan Smelter

“Masyarakat juga belum paham bantuan langsung memakai kartu itu. Jadi perlu waktu juga untuk sosialisasi,” ujar Arifin.

Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi PKS, Mulyanto meminta kepada pemerintah untuk bisa mempertimbangkan persoalan penyaluran elpiji ini. Ia tak menampik implementasi di lapangan banyak tak sesuai dengan seharusnya. Namun mengambil kebijakan yang buru buru malah berpotensi membuat pasar kaget sehingga potensi penimbunan juga terjadi.

“Saya meminta agar pemerintah jangan buru buru menerapkan kebijakan yang belum dikaji betul. Masih banyak warga yang membutuhkan,” ujar Mulyanto.

Baca Juga  Kini Makin Aman Naik Gojek, Ada Fitur Baru untuk Perlindungan Konsumen

Anggota Komisi VII Fraksi Gerindra Kardaya Warnika bahkan mengatakan dapat laporan harga gas elpiji 3 kg sudah naik jadi Rp 35.000. Laporan tersebut masuk lewat pesan singkat menyusul wacana kenaikan harga gas melon di semester II 2020.

“Antrean elpiji 3 kg dan harga di Sumut mana lagi sudah Rp 35 ribu sesuai yang ada di koran-koran. Jadi harga Rp 35 ribu kalau dari pemerintah itu akan semester II, mereka sudah sekarang, itu yang harus dipertimbangkan,” kata Kardaya di lokasi yang sama.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here