Kinerja Freeport Semakin Melemah di Tahun 2019 Hasilkan Laporan Keuangan Anjlok

PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) Persero (sekarang MIND ID) pada tahun 2018, resmi membeli sebagian saham PT Freeport Indonesia (PTFI). Dengan begitu, kepemilikan saham Indonesia atas PFTI meningkat dari 9% menjadi 51%. Namun, siapa sangka kinerja freeport pada kuartal ketiga tahun 2019 dinyatakan anjlok dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya. Manajemen Freeport menyatakan sudah memperkirakan penurunan tersebut lantaran masa akhir tambang terbuka dan transisi ke penambangan bawah tanah berlangsung mulai 2019.

0
ilustrasi via VOAindonesia com
ilustrasi via VOAindonesia com

KabarUang.com , Jakarta – PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) Persero (sekarang MIND ID) pada tahun 2018, resmi membeli sebagian saham PT Freeport Indonesia (PTFI). Dengan begitu, kepemilikan saham Indonesia atas PFTI meningkat dari 9% menjadi 51%. Namun, siapa sangka kinerja freeport pada kuartal ketiga tahun 2019 dinyatakan anjlok dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya. Manajemen Freeport menyatakan sudah memperkirakan penurunan tersebut lantaran masa akhir tambang terbuka dan transisi ke penambangan bawah tanah berlangsung mulai 2019.

Laporan operasional dan keuangan Freeport-McMoRan Inc. menyebut, produksi tembaga PT Freeport Indonesia atau PTFI sepanjang periode Januari-Desember 2019, tercatat hanya mencapai sebanyak 607 juta pounds. Jumlah tersebut anjlok sebanyak 47,67 persen, dari total jumlah produksi tembaga PTFI pada tahun 2018 yang mencapai sebanyak 1,16 miliar pounds.

Baca Juga  Pertamina Berupaya Tahan Laju Penurunan Produksi di 8 Blok Minyak

Dalam Rapat Dengar Pendapat atau RDP bersama Komisi VII DPR RI, Presiden Direktur PTFI, Tony Wenas, membeberkan penyebab turunnya produksi tembaga di 2019 itu. Dia menyebut, hal itu terjadi karena adanya masa transisi dari proses penambangan, dari tambang terbuka ke tambang bawah tanah.

“Proses penambangan terbuka Grasberg sudah selesai semua di akhir tahun 2019 lalu, sehingga tidak lagi dilakukan penambangan,” kata Tony di DPR RI, Senayan, Rabu 19 Februari 2020.

Baca Juga  Harga Indeks Pasar Biodesel Naik Bulan Ini Seiring Naiknya Harga CPO

Menurutnya, penambangan bawah tanah yang sedang dikembangkan, posisinya berada persis di bawah tambang Grasberg tersebut.

Tony pun menjelaskan, kedua tambang itu sebenarnya merupakan suatu kesatuan yang sama. Sehingga, agar tambang bawah tanah tersebut bisa dibangun sepenuhnya, maka kegiatan di atasnya memang harus dihentikan.

Dalam masa transisi dari tambang terbuka ke tambang bawah tanah tersebut, Tony memperkirakan, produksi tembaga yang dihasilkan akan berkurang hingga sekitar 50 persen setidaknya pada tahun 2019 dan 2020.

Baca Juga  Dua Komisaris PT Garuda Indonesia Enggan Tanda Tangani Laporan Keuangan 2018

“Karena sudah tidak ada lagi suplai dari tambang terbuka Grasberg,” ujarnya.

Diketahui, kinerja produksi PT Freeport Indonesia atau PTFI di sepanjang tahun 2019 lalu, mengalami penurunan yang signifikan dibandingkan dengan tahun 2018.

President & CEO Freeport-McMoRan, Richard C. Adkerson mengatakan, penurunan tersebut terjadi karena adanya proses transisi penambangan dari tambang terbuka ke tambang bawah tanah.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here