Kemenperin Dorong Hilirisasi Industri Untuk Dukung Progres Ekspor

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) nyatakan akan terus mendorong hilirisasi industri. Aktivitas tersebut telah dinilai dapat meningkatkan nilai tambah dari bahan baku di dalam negeri.

0
ilustrasi via money kompas com
ilustrasi via money kompas com

KabarUang.com , Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) nyatakan akan terus mendorong hilirisasi industri. Aktivitas tersebut telah dinilai dapat meningkatkan nilai tambah dari bahan baku di dalam negeri.

Kemenperin pun mendukung implementasi kebijakan larangan ekspor mineral mentah. “Kebijakan itu yang memang ditunggu oleh Kemenperin. Sebab, dengan larangan itu bisa memacu kinerja di sektor industri hulu, sekaligus juga diharapkan dapat mengundang investasi sektor tersebut masuk ke Indonesia,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, melalui keterangan tertulis.

Agus menyebutkan, Indonesia mempunyai kekayaan sumber daya alam yang dapat diolah sebagai bahan baku industri. Selain mineral, komoditas lainnya yang cukup potensial adalah minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).

“Memang CPO merupakan komoditas yang sedang dioptimalkan menjadi kebutuhan domestik, karena kita sedang membangun program B30 dan dalam dua tahun ke depan akan dikembangkan menjadi B100,” paparnya.

Oleh karena itu, pemerintah optimistis terhadap hilirisasi industri yang dinilai dapat menjaga kekuatan perekonomian nasional agar tidak mudah terombang-ambing di tengah fluktuasi harga komoditas. Dalam hal ini, industri pengolahan di dalam negeri perlu dipacu pertumbuhan dan pengembangannya karena berperan penting meningkatkan nilai tambah sumber daya alam untuk dibuat sebagai barang setengah jadi hingga produk jadi.

Baca Juga  Yuk Intip! Ternyata Indonesia Berada Dijajaran Awal Negara Dengan Ekonomi Terbaik Tahun 2030

“Makanya, kita harus fokus pada hilirisasi industri, yang tentunya akan membawa lompatan kemajuan bagi ekonomi kita,” ungkapnya.

Menurut Agus, selama ini hilirisasi industri telah memberikan multiplier effectyang luas, baik itu penerimaan negara melalui ekspornya maupun penyerapan tenaga kerja yang bertambah. Namun demikian, Agus menilai hilirisasi perlu ditopang dengan penggunaan teknologi baru, termasuk penerapan era industri 4.0 untuk menggenjot produktivitasnya secara lebih efisien.

“Saya senang dan bangga. Kita semua punya pandangan sama mengenai pentingnya inovasi. Pandangan hilirisasi harus didorong di Indonesia. Ini menjadi program utama,” tuturnya.

Baca Juga  KPPU Minta Penjelasan Importir Garam

Lebih lanjut, Agus mengungkapkan, sejumlah industri besar skala global ada yang berminat masuk dan membuka kegiatan produksi serta risetnya di Indonesia. Sejalan hal itu, pemerintah juga sedang mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia dan kegiatan litbang untuk inovasi. Agus mengatakan itu menjadi keunggulan komparatif Indonesia dibanding negara lain.

Kemenperin mencatat, hilirisasi industri telah berjalan di berbagai sektor, antara lain pertambangan dan perkebunan. Contohnya di Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah, yang sudah berhasil melakukan hilirisasi terhadap nickel oremenjadi stainless steel.

Sebagai gambaran, harga nickel ore kalau dijual hanya sekitar 40-60 dolar AS sedangkan ketika sudah menjadi stainless steel harganya bisa di atas 2000 dolar AS. Sementara itu, melalui Kawasan Industri Morowali, sudah mampu menembus nilai ekspornya sebesar 4 miliar dolar AS, baik itu pengapalan produk hot rolled coil maupun cold rolled coil ke Amerika Serikat dan China.

Baca Juga  Kemenperin Jadikan Bali Sebagai Sasaran Bagi 2000 Pelaku Industri Kreatif Indonesia

Kontribusi Kawasan Industri Morowali, juga diperlihatkan dari capaian investasi yang terus menunjukkan peningkatan, dari tahun 2017 sebesar 3,4 miliar dolar AS menjadi 5 miliar dolar AS sepanjang tahun 2018. Jumlah penyerapan tenaga kerjanya pun terbilang sangat besar hingga 30 ribu orang.

Lompatan kemajuan lainnya pada penerapan hilirisasi industri, yakni ekspor dari olahan sawit yang didominasi produk hilir cenderung meningkat dalam kurun lima tahun terakhir. Kontribusinya terhadap perolehan devisa cukup signifikan. Pada tahun 2018, rasio volume ekspor bahan baku dan produk hilir sebesar 19 persen banding 81 persen.

Hal itu ditambah pula dengan Indonesia yang merupakan produsen terbesar minyak sawit mentah (CPO) dan minyak kernel sawit mentah (CPKO) dengan produksi pada 2018 sebesar 47 juta ton. Laju pertumbuhan produksi minyak sawit pun diperkirakan meningkat signifikan. Sementara itu, ekspor minyak sawit dan produk turunannya telah menyumbang devisa negara hingga 22 miliar dolar AS per tahun.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here