Indonesia Berhasil Upgrade Menjadi Negara Upper Middle Income, Ini Tanggapan Presiden dan Bappenas

World Trade Organization atau WTO telah mengeluarkan China, India, dan Indonesia,dari daftar negara berkembang yang menerima perlakuan diferensial khusus atau special differential treatment (SDT).

0
ilustrasi via katadata co id
ilustrasi via katadata co id

KabarUang.com , Jakarta – World Trade Organization atau WTO telah mengeluarkan China, India, dan Indonesia,dari daftar negara berkembang yang menerima perlakuan diferensial khusus atau special differential treatment (SDT).

Menjadi negara upper middle income, sebenarnya Indonesia sudah bisa dibilang sebagai kategori negara maju. Namu, hal ini memang menjadi salah satu tujuan presiden Jokowi, dimana ia ingin mengeluarkan Indonesia dari midlle income trap.

Keoptimistisan presiden Indonesia bahwa negara mampu keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah alias middle income trap 2045. Ini adalah situasi ketika suatu negara sukses mencapai tingkat pendapatan menegah, tapi tidak dapat melangkah lebih maju–menjadi negara maju.

Baca Juga  Liburan Ke Korea? Yuk Coba Wisata Pedesaan yang Memukau di Gyeongnam

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa berpendapat, hal itu karena Indonesia dianggap telah ‘graduate’ dari lower middle income country menjadi upper middle income country.

“Jadi upper middle income itu (angka PDB Indonesia) sudah di atas US$4.000-an (per kapita),” kata Suharso di kantornya, kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Senin 24 Februari 2020.

Suharso mengakui, dengan anggapan seperti itu, pada akhirnya Indonesia akan menerima dua akibat. Yakni, akibat yang menguntungkan maupun akibat yang kurang menguntungkan.

Baca Juga  Wall Street Dinyatakan Melemah Setelah Libur Paskah

Sebab, lanjut Suharso, dari sisi fasilitas-fasilitas pembiayaan, nantinya Indonesia akan memperoleh perlakuan yang tidak sama lagi sebagaimana saat kelasnya masih dianggap sebagai negara lower middle income.

“Tapi mudah-mudahan kita bisa punya argumentasi yang kuat, sehingga kita masih bisa mendapatkan fasilitas yang lebih murah dan lebih fleksibel,” ujarnya.

Diketahui, keputusan WTO mengeluarkan China, India, dan Indonesia dari daftar negara berkembang yang menerima perlakuan diferensial khusus atau SDT tersebut, ditengarai merupakan dampak dari kritik yang sempat dilontarkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Baca Juga  Pemerintah Resmi Naikkan Plafon Dan Turunkan Suku Bunga KUR Jadi 6 Persen Per Tahun

Trump sebelumnya sempat mengkritisi mengenai negara-negara ekonomi besar, seperti China dan India, yang dikategorikan sebagai negara berkembang sehingga sebelumnya dinilai berhak mendapat preferensi khusus dalam aspek perdagangan di WTO.

Menurut Trump, hal itu tidak adil, mengingat negara-negara yang dikritiknya itu menyandang status negara berkembang, dan nyatanya masih memperoleh pemotongan bea masuk dan bantuan lainnya dalam aktivitas ekspor dan impor yang dilakukan.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here