Gapki : Produksi Sawit Tahun 2020 Menurun

0

KabarUang.com, Jakarta – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menyatakan bahwa tahun ini produksi sawit diperkirakan menurun. Prediksi ini berdasarkan kekeringan yang terjadi dan berkurangnya pupuk dibanding tahun lalu.

Ilustrasi via newstubus.id

Ketua Umum Gapki Joko Supriyono menjelaskan soal ini menurunnya produksi sawit tahun ini. Dia mengatakan meskipun BMKG memprediksi bahwa cuaca mendukung untuk menanam sawit, namun ada sejumlah faktor di tahun 2019 yang mempengaruhi turunnya produksi sawit tahun ini. Musim kemarau ini bisa berdampak minimal 8 bulan hingga 1,5 tahun pada produksi berikutnya.

“Musim kering di tahun 2019 lebih panjang dari sebelumnya. Kebakaran tahun lalu juga cukup menyibukkan kita semua yang intensitasnya hampir seperti tahun 2015,”ungkap Joko dilansir republikaonline pada acara pers Refleksi Industri Sawit Tahun 2019.

Baca Juga  Petani di Lombok Masih Bergantung pada Tembakau Meski Permintaan Pasar Menurun

Bukan hanya itu, faktor finansial karena rendahnya harga minyak sawit dunia pada dua tahun lalu juga mempengaruhi. Dengan begini, petani mengurangi penggunaan pupuk. Hal ini dilakukan untuk menutup biaya produksi sawit.

Faktor turunnya produksi sawit tahun 2020

Pengurangan pupuk ini berakibat pada produksi tandan buah segar (TBS) yang akan berkurang setidaknya 1,5 hingga 2 tahun kedepan.

Di sisi yang lain, peremajaan (replanting) kebun sawit baru dilakukan pada 2018 silam. Dimana dampak peremajaan tersebut baru akan terlihat setelah lima tahun dilakukannya replanting.

“Kalau dua faktor itu dianggap mempengaruhi produksi, tahun ini ‘incrementalnya’ akan turun. Mungkin kalau PKO tahun lalu sampai 4 juta ton, tahun ini tidak sampai. Yang jelas lebih rendah dari tahun lalu,”tambah Joko.

Baca Juga  Garut Genjot Ekspor Komoditas Tanaman Obat

Produksi sawit pada tahun 2019 sendiri mencatat bahwa pada tahun itu produksi sawit mencapai 51,8 juta ton CPO. Jumlah ini meningkat sekitar 9 persen jika dibandingkan dengan tahun 2018 yang hanya 47 juta ton.

Lebih jelasnya, Ketua Umum Gapki menyebutkan bahwa produksi CPO (crude palm oil) sebanyak 47,18 juta ton. Sedangkan PKO (palm kernel oil) sebanyak 4,6 juta ton.

“Ini menunjukkan tren dari Januari sampai Desember (2019) memang normal. Dalam hal tren, kenaikan masih normal, hanya di dua sampai tiga bulan terakhir saja yang agak sedikit masalah,”tambahnya.

Baca Juga  Aa Gym Luncurkan Pupuk Organik dari Lalat

Hal ini karena permintaan domestik yang meningkat dan tumbuh sebesar 24 persen.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here