Ini Sosok Timothy Tandiokusuma, Berhasil Geluti Bisnis Black Boulder Capital

Timothy Tandiokusuma, pemuda berusia 26 tahun, sukses menggeluti bisnis private equity bernama Black Boulder Capital (BBC). Berkat kerja kerasnya, Timothy saat ini tercatat telah membawahi 15 perusahaan dengan total asset under management mencapai Rp1 triliun.

0
ilustrasi via liputan6 com
ilustrasi via liputan6 com

KabarUang.com , Jakarta – Timothy Tandiokusuma, pemuda berusia 26 tahun, sukses menggeluti bisnis private equity bernama Black Boulder Capital (BBC). Berkat kerja kerasnya, Timothy saat ini tercatat telah membawahi 15 perusahaan dengan total asset under management mencapai Rp1 triliun.

Dari 15 perusahaan yang dibawahi, Timothy kini tengah mengembangkan beberapa merek yang unggul di bidang masing-masing. Contoh portofolio Black Boulder Capital adalah Mixology, salah satu merek F&B yang sedang tren di sejumlah kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Lampung, Bali dan Surabaya.

“Kami ikut saham Mixology di Bali dan Surabaya. Dalam waktu dekat, bisnis ini akan membuka outlet baru di beberapa kota lain lagi, dan kami berencana untuk ikut,” kata Timothy saat peresmian kantor baru BBC di Jakarta.

Baca Juga  Apa Dampaknya ke Harga BBM? Jika Kilang Minyak Saudi Aramco Diserang Drone

Timothy mengungkapkan, proyek yang dipilih umumnya perusahaan yang sudah punya track record baik. Ketika mereka memulai proyek baru, dia ikut di situ, sehingga meminimalisasi risiko kegagalan. Salah satu proyek itu adalah Holywings yang menempati urutan pertama sebagai tempat hang out modern milenial, di urutan berikutnya adalah Mixology.

Perusahaan private equity yang dikelolanya juga mempunyai saham di sebuah merek kuku tangan dan bulu mata Joanne Studio. Joanne adalah merek eyelash extension terbesar di Indonesia yang memiliki 33 cabang di lebih dari 10 kota.

Selain itu, perusahaannya banyak bergerak di industri money market. BBC juga berinvestasi di dunia saham, komoditas, dan derivatif.

Baca Juga  Kaesang Tebarkan Spirit of Enterpreneur kepada Ratusan Mahasiswa

“Kami berinvestasi di saham Amerika dan Indonesia,” ujar Timothy.

Di usianya yang masih muda, Timothy terbilang berhasil mengelola perusahaannya. Namun, itu tentu dilalui melalui proses yang panjang. Dia menyebutkan, sejak usia 17 tahun, ketika berkuliah di Seattle University, Timothy memulai bisnis pertamanya, yaitu perusahaan majalah berbahasa Indonesia di Seattle, Vuelto Magazine.

Selama di Amerika, dia juga merambah bisnis impor kopi Indonesia. Di Amerika ada banyak distributor, Timothy mempunyai perusahaan di Amerika dan mengimpor kopi dari Indonesia.

Setelah empat tahun di Amerika, lulusan Seattle University dengan cum laude ini pun kembali ke Indonesia. Tidak ingin bergantung di bawah bisnis keluarganya di Surabaya, Timothy lalu merantau ke ibu kota Jakarta.

Baca Juga  Untuk Pertama Kalinya Harga minyak mentah Brent menembus level US$75 per Barel

Dengan modal Rp1 miliar, tabungan dari hasil usahanya selama di Amerika, Timothy pun menjadi investor kecil-kecilan. Sayangnya, perusahaan di mana dirinya menjadi investor, semuanya gagal sehingga dia mengalami kebangkrutan di usia 23 tahun.

Namun, dengan kegigihannya, dia memulai kembali, kali ini dengan dukungan dari teman-teman dekatnya, mengelola uang mereka dan memutarnya di dunia money market.

Terobosannya tidak sia-sia. Sejumlah teman mempercayakan modalnya untuk dikelolanya, dari kisaran Rp25 juta hingga Rp50 juta. Hingga kini banyak teman-temannya mempercayakan miliaran rupiah, untuk diputar di sektor riil.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here