Kesensitifan Perubahan Teknologi di Era Digital Bisa Jadi Kunci Perusahaan Bertahan

Pendiri Lippo Grup Mochtar Riady bercerita bahwa banyak perusahaan skala global yang saat ini satu persatu mulai mengalami kemunduran, bahkan berpindah kepemilikan. Dia menilai hal ini terjadi karena perusahaan tak sensitif terhadap perubahan teknologi di era digital ini.

0
ilustrasi via jurnal id
ilustrasi via jurnal id

KabarUang.com , Jakarta – Pendiri Lippo Grup Mochtar Riady bercerita bahwa banyak perusahaan skala global yang saat ini satu persatu mulai mengalami kemunduran, bahkan berpindah kepemilikan. Dia menilai hal ini terjadi karena perusahaan tak sensitif terhadap perubahan teknologi di era digital ini.

Menurut Mochtar Riady, selain tak sensitif terhadap perubahan teknologi, perusahaan juga gagal karena tidak sensitif pada perubahan ekonomi karena teknologi. Perusahaan juga bisa gagal karena tidak sensitif terhadap perubahan politik akibat perubahan ekonomi.

“Salah satu, mereka tidak sensitif saja terhadap hal itu, maka perusahaan akan lenyap,” kata Mochtar Riady saat memberikan pidato dalam acara Indonesia Digital Conference di Grand Ballroom Djakarta Theater.

Baca Juga  Mulai Dari di Protes Trump Hingga Luncurkan Sistem 5G, Iphone Tetap Tegak Berinovasi

Mochtar mencontohkan, di masa Hindia Belanda, hal serupa misalnya terjadi pada perusahaan gula. Saat masa jaya, pengusaha yang dikenal dengan Raja Gula tersebut memiliki aset hingga 200 juta gulden atau setara US$ 200 miliar saat ini. Namun, kini perusahaan bersama keluarga pendirinya tak lagi terdengar kabarnya.

Salah satu orang terkaya di Indonesia itu, juga menunjuk contoh sejumlah perusahaan otomotif seperti Nissan dan Mitsubishi yang 6 tahun lalu mesti dijual kepada Renault. Dua tahun lalu, perusahaan elektronik seperti Hitachi, Toshiba dan Sharp juga mesti menjual usaha mereka ke pengusaha Cina.

Baca Juga  Tokopedia Yang Didukung SoftBank dan Alibaba Catat Penjualan Selama Ramadhan Sebanyak US $ 1,3 Miliar

Selain itu, Mochtar Riady juga mencontohkan kejadian yang menimpa perusahaan armada dan taksi Bluebird yang mulai tergeser oleh Gojek dan Grab. Pada 2002 hingga 2007 silam, Bluebird masih menjadi perusahaan jasa layanan antar yang mendominasi pasar dan jalanan. Namun belakangan, dua tahun terakhir mulai ditinggalkan publik.

“Banyak perusahaan mengalami nasib yang beda karena beda teknologi ini. Karena itu, yang penting bagaimana untuk menyesuaikan dalam teknologi baru ini,” kata Mochtar.

Baca Juga  RUPST Sepakati PT Garuda Food Akan Bagikan Dividen Sebesar Rp 17 Per Saham

Mochtar Riady mengatakan, sebenarnya teknologi digital bukanlah barang baru. Sebab, teknologi digital telah berkembang sejak tahun 1946. Karena itu, menurut dia kurang tepat jika sekarang orang-orang terlalu sering bicara digital.

“Saya sarankan jangan terus memikirkan era digital seolah itu hebat. It is nothing. Tapi bagaimana cara memanfaatkan eradigital untuk perdagangan, administrasi birokrasi supaya semua lebih efisien,” kata Mochtar Riady.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here