China Catat Penurunan Ekspor Selama 4 Bulan Berturut-turut

Angka ekspor Cina pada November 2019 menunjukkan penurunan selama empat bulan berturut-turut. Perang dagang antara Cina dan Amerika Serikat yang berlangsung selama 17 bulan memberikan tekanan kepada produsen di negeri tirai bambu tersebut.

0
ilustrasi via ekbis sindonews com
ilustrasi via ekbis sindonews com

KabarUang.com , Jakarta – Angka ekspor Cina pada November 2019 menunjukkan penurunan selama empat bulan berturut-turut. Perang dagang antara Cina dan Amerika Serikat yang berlangsung selama 17 bulan memberikan tekanan kepada produsen di negeri tirai bambu tersebut.

Data bea cukai menunjukkan pengiriman ke luar negeri turun 1,1 persen pada periode sama dari tahun sebelumnya. Merosotnya angka lebih banyak dibandingkan dengan prediksi 1,0 persen dari para analis di jajak pendapat Reuters.

Sebaliknya, impor menunjukkan pertumbuhan yang mengisyaratkan perbaikan pada aspek permintaan. Impor Cina secara tidak terduga naik 0,3 persen dari tahun lalu. Hal ini menandai pertumbuhan tahun-ke-tahun pertama sejak April.

Baca Juga  Ekspor Kerajinan Semakin Meningkat, Devisa Perekonomian Nasional Menjadi Untung

Data impor yang lebih baik berbanding terbalik dengan perkiraan penurunan 1,8 persen oleh para ekonom. Analis menduga penyebabnya adalah penguatan permintaan domestik setelah lonjakan aktivitas pabrik, meski banyak yang enyangsikan kenaikan akan bertahan.

Surplus perdagangan Cina per November 2019 mencapai 38,73 miliar dolar AS. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan prediksi surplus 46,30 miliar dalam polling dan surplus 42,81 miliar dolar AS yang tercatat pada Oktober 2019.

Meski tekanan ekonomi meningkat, Cina enggan menerapkan stimulus besar karena khawatir meningkatkan risiko keuangan. Cina lebih memilih strategi pengurangan suku bunga tambahan dan memajukan waktu kuota obligasi khusus pemerintah daerah.

Baca Juga  Kemenperin Dorong Hilirisasi Industri Untuk Dukung Progres Ekspor

Hal itu mengingat Cina sudah memiliki utang yang tinggi. Gubernur People’s Bank of China Yi Gang pekan lalu menegaskan bahwa Cina tidak akan melakukan pelonggaran kuantitatif. Pemerintah berkomitmen untuk mempertahankan kebijakan moneter yang bijaksana.

Saat ini, Cina dan AS sedang merundingkan kesepakatan perdagangan tahap pertama yang bertujuan mengurangi sengketa perdagangan. Akan tetapi, kedua belah pihak terus berselisih karena perincian yang mengaburkan prospek kesepakatan.

RUU DPR AS yang menargetkan kamp Cina untuk etnis minoritas Muslim di Xinjiang dan aksi AS mendukung pemrotes anti-pemerintah di Hong Kong membuat marah Cina. Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Kamis bahwa pembicaraan perdagangan dengan Cina ‘bergerak maju’.

Baca Juga  Menkeu Sri Mulyani Dukung Penandatangan Perang Dagang China dan AS

Dikutip dari laman Reuters, seorang pejabat Cina mengatakan bahwa pihaknya akan menerapkan tarif sendiri sebagai tindakan balasan jika AS memberlakukan tarif 15 Desember. Hal itu diyakini dapat melemahkan peluang kesepakatan perdagangan jangka pendek.

Trump telah menuntut agar Cina berkomitmen untuk pembelian minimum spesifik produk pertanian AS. Sementara, Cina mengonfirmasi pada Jumat bahwa mereka akan menghapuskan tarif impor untuk beberapa pengiriman kedelai dan babi dari AS.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here