BPS Catat Kinerja Impor Oktober 2019 Mengalami Penurunan 16,39%

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kinerja impor pada bulan Oktober 2019 mengalami penurunan 16,39 persen secara tahunan (yoy) dibanding Oktober 2018 menjadi hanya 14,77 miliar dolar AS. Pada Oktober tahun lalu, nilai impor sempat menyentuh 17,67 miliar dolar AS.

0
ilustrasi via rencongpost com
ilustrasi via rencongpost com

KabarUang.com , Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kinerja impor pada bulan Oktober 2019 mengalami penurunan 16,39 persen secara tahunan (yoy) dibanding Oktober 2018 menjadi hanya 14,77 miliar dolar AS. Pada Oktober tahun lalu, nilai impor sempat menyentuh 17,67 miliar dolar AS.

Adapun kinerja impor kumulatif kurun waktu Januari-Oktober 2019, tercatat sebesar 140,9 miliar dolar AS. Angka tersebut turun dibanding periode sama tahun lalu sebesar 156,4 miliar dolar AS.

Namun, penurunan impor itu tidak serta merta menunjukkan sinyal positif bagi neraca perdagangan Indonesia. Sebab, Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan, penurunan impor terjadi pada semua golongan barang. Baik barang konsumsi, barang modal, maupun bahan baku yang digunakan industri dalam negeri.

Baca Juga  China Catat Penurunan Ekspor Selama 4 Bulan Berturut-turut

BPS mencatat, selama Januari-Oktober 2019, impor barang konsumsi mencapai 13,1 miliar dolar AS, turun 8,31 persen dibanding waktu yang sama tahun lalu. Sementara itu, impor barang modal sebesar 23,45 miliar dolar AS atau turun 4,94 miliar.

Terakhir, bahan baku anjlok hingga 11,19 persen menjadi hanya 104,34 miliar dolar AS dari periode sama tahun lalu sebesar 117,5 miliar dolar AS.

Suhariyanto mengatakan, secara prinsip jika yang turun hanya barang konsumsi hal itu menunjukkan situasi positif karena menandakan terjadi substitusi dari produk impor menjadi produk lokal. Namun, barang modal hingga bahan baku ikut mengalami pertumbuhan negatif.

Baca Juga  Divisi Chip Alibaba Merilis IP Prosesor Inti Pertama

“Impor barang konsumsi turun oke tidak apa-apa. Tapi kalau bahan baku yang turun tentunya harus dicermati,” kata Suhariyanto dalam Konferensi Pers di Jakarta.

Lebih detail, volume impor bahan baku dan penolong pada Januari-Oktober 2019 mencapai 124,7 juta ton, turun 5,45 persen dibanding Januari-Oktober 2018 yang tembus 131,9 juta ton. Setidaknya terdapat 10 komoditas bahan baku yang diimpor. Mencakup bahan baku untuk makanan dan minuman, bahan bakar dan pelumas, hingga suku cadang untuk alat angkutan dan barang modal.

Impor terbesar berasal dari Cina yang memiliki pangsa impor hingga 36,32 miliar dolar AS atau 29,46 persen terhadap keseluruhan impor. Masih dara data BPS, Indonesia tercatat mengimpor bahan baku dari Cina dengan total nilai 21,87 juta ton.

Baca Juga  Lebih Murah, Pakaian Impor China Serbu Indonesia, Termasuk Baju Koko Menjelang Lebaran

Suhariyanto memaparkan, adapun khusus pada bulan Oktober 2019 ini, impor bahan baku mengalami kenaikan 6,17 persen dibanding September 2019 menjadi 10,89 miliar dolar AS. Namun, dibanding Oktober 2018, nilai impor tersebut anjlok hingga 18,76 persen.

Rendahnya impor bahan baku pada Oktober tahun ini mengkonfirmasi data pertumbuhan industri manufaktur dari sisi produksi. Berdasarkan hasil riset dari IHS Markit, angka purchasing manager index (PMI) manufaktur pada bulan Oktober turun ke level 47,7 dari posisi September lalu sebesar 49,1. Skor PMI manufaktur Indonesia yang berada di bawah level 50, menunjukkan bahwa terjadi kontraksi pada manufaktur dari sisi produksi.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here