Perlambatan Ekonomi Global Jadi Ancaman di Beberapa Negara

0
ilustrasi via finance detik com
ilustrasi via finance detik com

KabarUang.com , Jakarta – Pemerintah kini sudah mulai memasang lampu kuning terkait perlambatan ekonomi global yang terjadi di beberapa negara. Terlebih, kewaspadaan pemerintah kian tebal setelah ancaman dari resesi yang telah menghantui beberapa negara.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut perlambatan ekonomi global tentu bisa menyeret pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hanya saja, ia tak bisa memprediksi besarnya dampak tersebut terdapat pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Resesi diprediksi akan menghantam ekonomi global tak lama lagi. Para pembuat kebijakan tidak akan dapat mencegahnya. Para ekonom menyatakan risikonya sangat tinggi.

Baca Juga  Wall Street Kembali Perkasa Sementara Resesi Memudar

“Saya pikir risikonya sangat tinggi sehingga jika sesuatu tidak seperti yang diharapkan, kita akan mengalami resesi. Bahkan, jika kita tidak mengalami resesi selama 12-18 bulan ke depan, saya pikir cukup jelas bahwa ekonomi kita akan jauh lebih lemah,” kata Kepala Ekonom Moody’s Analytics, Mark Zandi, kepada CNBC seperti dikutip rt.com.

Menurut ekonom, ada banyak faktor yang dapat membantu menghindari perlambatan ekonomi. Di antaranya Presiden AS, Donal Trump, menghentikan perang dagang dengan Chinna, Inggris menemukan resolusi untuk Brexit, dan bank sentral melanjutkan stimulus moneter mereka.

Baca Juga  Asosiasi Fintech Pendanaan Indonesia Luncurkan FDC Untuk Hindari Fraud

Ketika ditanya tentang kemungkinan resesi ekonomi global, Zandi berkata, “Saya pikir akan tinggi, sangat tidak nyaman.” Peringatan tersebut datang dari Zandi ketika Lembaga Dana Moneter Internasional (IMF) membuat revisi penurunan pertumbuhan global.

IMF dalam World Economic Outlook mengungkapkan bahwa ekonomi global tumbuh pada laju paling lambat sejak krisis keuangan 2009. IMF memproyeksikan pertumbuhan PDB global sebesar 3 persen tahun ini, turun dari perkiraan Juli sebesar 3,2 persen. Penurunan yang tajam hanya dari dua tahun lalu.

Bos IMF yang baru, Kristalina Georgieva, seperti dilaporkan Bloomberg, melihat risiko yang sangat serius bahwa perlambatan tersebut akan menyebar. IMF menyalahkan konflik perdagangan, ketidakpastian Brexit, dan krisis geopolitik lainnya. 

Baca Juga  Sepanjang Tahun 2019, Ekonomi Indonesia Tetap Stabil Ditengah Guncangan Ekonomi Global

Ada kebutuhan mendesak para pemimpin dunia untuk mengurangi ketegangan. “Kebijakan moneter tidak bisa menjadi satu-satunya permainan di kota dan harus digabungkan dengan dukungan fiskal berupa tersedinya ruang fiskal dan kebijakan belum terlalu ekspansif,” kata Zandi.

Zandi setuju pemerintah harus meningkatkan pengeluaran untuk mendukung ekonomi, mencatat bahwa bagaimanapun juga banyak negara ekonomi besar tidak akan menempuh jalan itu.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here