Pemerintah Indonesia Ungkap Daya Saing Pasar Dunia Menjadi Salah Satu Tantangan Ekonomi

0
ilustrasi via shazactravel com
ilustrasi via shazactravel com

KabarUang.com , Jakarta – Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho menyebutkan daya saing menjadi salah satu pekerjaan rumah (PR) yang perlu ditingkatkan dalam pemerintahan baru Presiden Joko Widodo.

“Daya saing dan produktivitas di pasar internasional hasilnya masih belum cukup terlihat,” katanya di Jakarta, Jumat (18/10).

Baru-baru ini, Forum Ekonomi Dunia (WEF) merilis peringkat daya saing Indonesia yang berada di urutan 50 atau turun lima peringkat dari posisi 45 tahun 2018. Menurut dia, meski Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyebut regulasi yang rumit menjadi salah satu penyebab daya saing Indonesia menurun, namun kualitas sumber daya manusia (SDM) juga berkontribusi terhadap penurunan daya saing.

Baca Juga  Rupiah Pagi Ini Mulai Bergerak 2 Arah Ke Angka Rp14.066/USD

Hal itu, kata dia, dapat dicermati dari penurunan indikator kesehatan, kemampuan tenaga kerja dan industri menggunakan tenaga kerja tersebut.

“Ini salah satu jawaban juga mengapa investor enggan datang ke Indonesia. Utamanya investasi di sektor manufaktur dan padat karya,” katanya.

Peneliti muda itu menambahkan tenaga kerja dari Asia Tenggara banyak dipekerjakan di Indonesia, sedangkan penyerapan tenaga kerja di SMK dan vokasi belum optimal. Dengan daya saing yang lebih baik, maka Indonesia bisa menarik investasi sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga  Pertamina Berhasil Bangun 161 Titik BBM Dalam Jangka 3 Bulan

Meski demikian, Andry menekankan menarik investasi lebih besar juga memerlukan perencanaan yang matang khususnya dalam mewujudkan regulasi yang sederhana dan fleksibel.

“Jika disederhanakan tanpa perencanaan matang, bisa jadi kita terkena imbas dari investasi asing yang akan datang. Semua aspek terutama lingkungan dan manusia dilibas demi investasi,” katanya.

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengatakan ekspor produk Indonesia tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam.

Enggar menyebut faktor utama yang membuat Indonesia tertinggal ialah minimnya perjanjian perdagangan dengan negara lain. Enggar menyinggung selama 25 tahun lalu, Indonesia hanya memiliki delapan perjanjian perdagangan.

Baca Juga  Kemenkop UKM Temukan Investasi Bodong Dalam Usaha Berbasis Koperasi

“Kenapa kita agak tertinggal karena mereka (negara tetangga) sudah lebih dahulu membuka diri melakukan perjanjian (perdagangan),” ujar Enggar di sela-sela pembukaan Trade Expo Indonesia (TEI) 2019 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang Selatan, Banten.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here