Indeks Harga Saham Gabungan Adalah, Belajar Mudah IHSG

0
ilustrasi via ekonomi kompas com
ilustrasi via ekonomi kompas com

KabarUang.com , Jakarta – Masyarakat umum apalagi investor sudah banyak yang akrab dengan istilah Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG. Namun, tak banyak yang mengetahui apa fungsi IHSG, bagaimana menghitung nilai IHSG, dan apa saja faktor yang menyebabkan perubahan nilai IHSG. Artikel ini akan mengajak Anda untuk mengenal IHSG lebih dalam lagi.

HSG adalah singkatan dari Indeks Harga Saham Gabungan. Yang dimaksud dengan indeks harga di sini adalah harga rata-rata dari semua saham yang ada di Bursa Efek Indonesia.

Kalau dalam bahasa Inggris IHSG ini disebut dengan Indonesia Composite Index, disingkat ICI, atau IDX Composite.

Umumnya di bursa saham dunia mengenal lebih dari satu indeks. Contohnya di AS, ada S&P500, Dow Jones, Nasdaq. Sedangkan di BEI, ada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) atau Jakarta Composite Index (JCI), Indeks LQ45, Jakarta Islamic Index (JII), Indeks Sektoral, serta Indeks Individual. Selain indeks utama tersebut, indeks lainnya adalah Kompas-100 dan Bisnis-27.

IHSG pertama kali diperkenalkan pada tanggal 1 April 1983. Tapi, hari dasar perhitungan IHSG adalah tanggal 10 Agustus 1982 dengan nilai 100. Kalau IHSG merepresentasikan rata-rata dari seluruh saham di BEI, LQ45 hanya menghitung indeks untuk 45 saham unggulan yang cukup aktif. Jakarta Islamic Index (JII) memuat 30 saham pilihan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI. Indeks sektoral sesuai namanya memuat saham yang memiliki kesamaan bidang bisnis. Sedangkan Indeks Individual, tentu saja satu saham saja.

Baca Juga  Pentingnya Persiapan Dana Pensiun, Survey Menyatakan 63% Masyarakat Khawatir Akan Hal Ini

Kompas-100 adalah indeks dari 100 saham yang diterbitkan para analis harian Kompas. Sedangkan Bisnis-27 adalah indeks yang dirilis harian Bisnis Indonesia.

Kalau di Amerika Serikat ada namanya Dow Jones Industrial Average (DJIA). Secara umur, DJIA ini merupakan indeks tertua yang ada di US dan masih aktif digunakan hingga saat ini.

Mengenal dunia trading saham maka pasti kenal juga dengan Indeks Harga Saham Gabungan. Nah, pengertian IHSG menurut para ahli ini ditujukan untuk pemula. Sekaligus sejarah, fungsi, teori cara menghitung/membaca data Indonesia Composite dan lainnya akan dibahas di artikel ini.

Baca Juga  IHSG Dibuka Dan Langsung Tancap Gas ke Angka 6.255

Walau IHSG merupakan nilai rata2 dari semua saham di Indonesia, tapi poin angka yang ditampilkan tidak hanya sekedar untuk diketahui sejauh mana level tertinggi atau terendahnya, melainkan ada banyak efek dan manfaatnya pada perekonomian negara ini.

Dengan mengetahui trend pergerakannya maka investor akan tau seperti apa kondisi bursa saat itu, dan bila hasil penilaian itu diimplementasikan dalam bentuk investasi maka akan berdampak pada perputaran dana yang signifikan pada perekonomian kita, dan seterusnya efek domino akan tercipta dari indeks tersebut.

Dalam prakteknya, oleh banyak trader saham, mereka menggunakan pergerakan IHSG ini tujuannya sebagai pertimbangan untuk melakukan trading atau transaksi saham. Ini dikarenakan kondisi Bullish atau Berish dari IHSG selalu mempengaruhi pergerakan harga saham pada umumnya di BEI, khususnya dari saham Blue Chip.

Memang tidak selamanya jika IHSG sedang downtrend maka saham yang kita pegang juga akan ikut turun. Tapi, khusus untuk saham-saham yang tergolong dalam indeks LQ45 sering kali pergerakannya dipengaruhi oleh kondisi IHSG.

Dari pengalaman saya selama ini dalam mengamati karakter pergerakan harga dari tiap-tiap saham di bursa menunjukkan bahwa saham yang likuid seringkali pergerakannya kurang lebih setara dengan dengan pergerakan IHSG.

Baca Juga  Minggu Kedua September, IHSG dan Kapitalisasi Pasar Dinyatakan Menguat Tipis

Maksudnya, jika IHSG turun banyak maka saham-saham tersebut juga akan turun banyak, dan demikian sebaliknya.

Namun, bagi saham-saham yang tidak terlalu ramai ditransaksikan atau istilahnya second liner, sering kali pergerakannya sangat ‘liar’, dalam artian tidak terlalu menyesuaikan dengan kondisi IHSG.

Terkadang walau IHSG hanya turun atau naik sedikit, saham jenis tersebut merespon dengan pergerakan yang selisihnya lumayan jauh dari indeks.

Hal tersebut lazimnya dikarenakan para investor memahami bahwa resiko berinvesatasi di saham yang tergolong lapis kedua lebih besar di banding saham blue chip yang fundamentalnya lebih baik.

Sebenarnya yang ingin diketahui dari IHSG adalah bagaimana kondisi pergerakan harga saham secar akeseluruhan yang terkini. Hanya saja, untuk membaca kondisi IHSG tentu kita butuh ilmunya.

Baik itu membaca kondisi transaksi dari 1 saham atau semua saham sekaligus, dalam hal ini IHSG, sebenarnya And acuma perlu tau 2 istilah yaitu Downtrend, Uptrend, dan Sideway, serta Bullish dan Burish.Selebihnya tinggal baca rentang pergerakannya saja.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here