Data Pertumbuhan Bisnis Ritel di Indonesia

0

KabarUang.com, Jakarta – Bisnis ritel yang akhir-akhir ini marak di Indonesia. Pada dasarnya ada dua jenis bisnis ritel yang ada di Indonesia. Pertama, ritel tradisional. Kedua, ritel modern. Ritel tradiosional ini adalah jenis pasar tradisional. Namun, ritel tradisional ini semakin tergeser dengan perkembangan tekologi. Sedangkan, ritel modern sendiri merupakan bisnis ritel tradisional yang terus dikembangkan. Bisnis ritel modern mulai populer dan berkembang pada tahun 1962.

Ilustrasi via Alfamart

Pada dasarnya terdapat tiga jenis pasar modern yakni minimarket, supermarket dan hypermarket. Pada kelompok minimarket ada dua pemain besar yang ikut andil, yakni Indomaret dan Alfamart. Pertumbuhan keduanya sangat pesat di Indonesia. Bahkan Indomaret dan Alfamart menyumbang omset sekiar 43,2% dari total omset minimarket di Indonesia. Sementara Alfamart sendiri berada dibawah Indomaret dengan penyumbangan omset 40,8% atau sekitar Rp 7,3 triliun.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Retail Indonesia (Aprindo) Roy N. Mandey mengatakan bahwa pertumbuhan minimarket ini diatas 15% per tahun. Bahkan beliau mengatakan, per tahun minimarket bisa membuka sebanyak 1.000 gerai.

Data perkembangan bisnis ritel di Indonesia cenderung mengalami kenaikan setiap tahunnya. Pada tahun 2019 data perkembangan ritel di Indonesia diperkirakan mencapai Rp 256 triliun atau tumbuh sekitar 10% dibandingkan tahun 2018 lalu.

Baca Juga  Harga Emas Antam Jadi Rp664.000/Gram Atau Naik Sekitar Rp2.000

Data ini terbilang moderat bagi Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta. Namun, baginya hasil ini masih jauh lebih baik dibanding dengan pertumbuhan bisnis ritel pada tahun 2017 lalu yang hanya mencapai 3,7%.

Sedangkan, pertumbuhan bisnis ritel di Indonesia pada tahun 2016 hanya mencapai Rp 205 triliun. Selanjutnya tumbuh sekitar 7 triuliun menjadi Rp 212 triliun. Pada tahun 2018 tumbuh hingga Rp 233 triliun.

Apabila mengutip data dari McKinsey nilai transaksi dagang ritel di Indonesia bisa menyentuh US$55 miliar hingga US$65 miliar pada tahun 2022. Besaran pertumbuhan ritel di Indonesia ini bisa tumbuh delapan kali lipat dari realisasi yang dicanangkan pada tahun 2017 yang hanya mencapai US$8 miliar.

Di Indonesia sendiri bisnis ritel yang mengalami pertumbuhan pesat adalah bisnis ritel modern. Hal ini bisa dilihat dari grafik perkembangan omset ritel modern yang dikeluarkan oleh AC Nielsen, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia, Media Data. Grafik tersebut menyatakan pertumuhan bisnis ritel di Indonesia pada tahun 2004 sebesar 26,96% lebih besar dibandingkan dengan department store yang hanya 5,45% pertumbuhannya. Meningkat lagi di tahun 2005 menjadi 31,86% hingga pada tahun 2008 pertumbuhan ritel di Indonesia bisa mencapai 66,45%.

Baca Juga  Sriwijaya Pilih “Pisah” Dari Garuda, Surat Sudah Disampaikan ke Kemenhub

Sementara riset yang dikeluarkan Bank Indonesia (BI) pada Maret 2019 soal penjualan ritel ini tumbuh sekitar 10,1%. Angka ini dinyatakan lebih besar dibanding dengan bulan sebelumnya. Wakil Kerua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta mengatakan bahwa pertumbuhan ritel ini tidak sesuai dengan harapan. Hal ini karena pertumbuhan di kuartal I dinyatakan sangat kecil. Beliau mengatakan penurunan ini disebabkan oleh daya beli masyarakat yang menurun. Selain itu, disebabkan faktor global lainnya yakni harga komoditas yang turun.

Hal ini kemudian ditanggapi oleh Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Tjahya Widayanti. Beliau menyarankan agar para peritel modern agar mereka terus mengembangkan strategi omnichannel agar bisnis ritel semakin berkembang.

Beliau mengatakan, berdasarkan data yang dia miliki, saat ini sebanyak 95% dari anggota Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) sudah bertranformasi mengembangkan bisnis ritelnya secara daring. Jadi, saat ini peritel tidka harus membuat gerai ritel yang lebih luas lagi, cukup lengkapi ritel dengan fasilitas penjualan online.

Baca Juga  Demi Keamanan Tukar Uang Lebaran Di Tempat Resmi Kata BI

Riset terbaru mengenai pertumbuhan bisnis ritel di Indonesia dilansir CEIC yakni sebesar 3,7% pada tahun 2019 bulan Agustus. Rekor ini mengalami kenaikan dibanding periode sebelumnya yang hanya 2,4% pada Juli 2019. Rata-rata pertumbuhannya sebesar 9,8% per bulannya. Pertumbuhan bisnis ritel di Indonesia ini terhitung sejak 2011 pada bulan Januari hingga 2019 bulan Agustus dengan melakukan 104 observasi.

Pada akhirnya, data ini mencapai pertumbuhan tertinggi sebesar 28,2% pada tahun 2013 pada bulan Desember. Rekor terendahnya tercatat sebesar -5,9%. Pertumbuhan bisnis ritel di Indonesia memiliki banyak faktor. Pertama, pemerintah sendiri menekan angka inflasi pada tahun 2018 lalu, yakni tidak melebih dari 3,2%. Kedua, pertumbuhan ekonomi pada tahun 2018 mendekati angka 5,2% yang artinya pertumuhan ekonomi masih bisa berjalan. Terakhir, indeks keyakinan konsumen ini berada di angka 167 hingga akhir tahun.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here