5 Indikator Saham Paling Akurat

0
ilustrasi via sahampemula com
ilustrasi via sahampemula com

KabarUang.com , Jakarta – Dalam trading pastinya harus mengenal berbagai macam analisis teknikal. Salah satunya adalah indikator. Indikator berguna untuk memprediksi kecenderungan arah pergerakan harga saham. Sama seperti analisa rasio keuangan untuk memprediksi fudamental perusahaan, indikator saham juga memiliki jumlah yang sangat banyak, bahkan bisa sampai ratusan.

Maka dari itu, pada umumnya trader saham tidak menggunakan semua indikator untuk menganalisis saham. Nah, untuk kepentingan analisis teknikal, ada beberapa indikator untuk menganalisis saham yang paling sering digunakan trader.

Indikator ini terdiri dari 3 bagian yaitu Indikator Overlay , Indikator Trend Oscillator , dan Indikator Trend Price Action. Indikator Overlay tampil menumpuk di atas Candlestick. Jadi, indikator trend ini dapat secara langsung menginformasikan ke mana arah trend selanjutnya akan berlangsung.

Indikator Trend Oscillator muncul secara terpisah dari grafik pergerakan harga. Meski terpisah, indikator trend ini dapat memprediksi arah trend Forex, melalui dinamika pergerakan garis Oscillator pada patokan level tertentu.

Indikator Trend Price Action ini lebih subjektif karena trader memiliki kebebasan penuh untuk mengatur penempatan di chart.

Indikator dalam Analisis Teknikal adalah formula matematis yang berfungsi untuk mengetahui bagaimana kondisi pasar dan juga untuk membantu memberikan sinyal beli atau jual. Saat ini ada ratusan atau bahkan ribuan indikator yang telah dibuat. Tiap indikator memiliki karakter dan cara penggunaannya masing-masing. Beikut 4 buah indikator Analisis Teknikal yang paling populer.

Baca Juga  MNC Sekuritas Mulai Dorong Generasi Milenial Yogyakarta Untuk Segera Bisa Investasi Saham

1. MOVING AVERAGE

Tidak bisa digugat lagi, Moving Average (biasa disingkat MA) memang indikator sejuta umat bagi trader. Silakan Anda tanya pada setiap trader, pasti pernah menggunakan atau setidaknya mengenal Moving Average. Maklum, indikator ini memang paling sederhana dibanding indikator Analisis Teknikal lain. Indikator ini menghitung pergerakan harga rata-rata dari suatu saham dalam suatu rentang waktu, misalnya dalam waktu 50 hari atau sering disebut MA50. Cara penggunaan indikator ini adalah dengan melihat posisi harga dibandingkan dengan MA50 tersebut. Apabila grafik harga memotong MA50 ke atas dianggap sinyal beli. Sedangkan sebaliknya, bila grafik harga memotong MA50 ke bawah dianggap sebagai sinyal jual.

2. RELATIVE STRENGTH INDEX (RSI)

Relative Strength Index (RSI) digunakan untuk menghitung perbandingan antara daya tarik kenaikan dan penurunan harga, nilainya berkisar 0-100. Dengan RSI Anda dapat mengetahui apakah suatu harga sudah overbought atau oversold. Pada prinsipnya, penggunaan RSI sangat mudah. Jika RSI bernilai sangat tinggi (di atas 70) artinya pasar sudah overbought (jenuh beli) sehingga ada potensi turun, saatnya untuk jual. Sebaliknya jika RSI bernilai sangat rendah (di bawah 30) artinya pasar sudah oversold (jenuh jual) sehingga ada potensi naik, saatnya untuk beli.

Baca Juga  CEO Renault, Bollore Akui Tidak Miliki Rencana Untuk Kurangi Saham Nissan

3. STOCHASTIC

Stochastic dikembangkan oleh George C. Lane di akhir 1950-an. Stochastic adalah indikator yang menunjukkan lokasi harga penutupan terakhir dibandingkan dengan range harga terendah/tertinggi selama periode waktu tertentu. Ada tiga macam tipe Stochastic Oscillators: Fast, Slow, dan Full. Biasanya ada dua garis di Stochastic, yaitu %K dan %D. Sinyal beli dan jual bisa dilihat dari garis %K dan %D. Jika %K memotong %D ke atas, berarti sinyal beli. Sedangkan bila %K memotong %D ke bawah berarti sinyal jual.

4. MOVING AVERAGE CONVERGENCE DIVERGENCE (MACD)

Moving Average Convergence/Divergence (MACD) adalah indikator yang sangat berguna bagi seorang trader. Indikator ini berfungsi untuk menunjukkan trend yang sedang terjadi dan juga bisa memberikan sinyal beli atau jual. Di dalam MACD ada dua garis yang akan Anda temui, yaitu Signal Line dan MACD Line. Jika nilai MACD positif (di atas nol), berarti pasar bersifat bullish, disarankan beli. Sedangkan jika nilai MACD negatif (di bawah nol), berarti pasar bersifat bearish, disarankan jual.

Baca Juga  IHSG Sedang Dibuka Naik Sekita 6 Poin ke Level 6.480

5.BOLLINGER BANDS (BB)

Bollinger Bands (BB) mengukur minat pasar terhadap suatu saham dan juga bisa menentukan kecenderungan tren saham perusahaan, sama seperti MA. Indikator BB termasuk dalam indikator lagging, dan indikator BB sangat populer digunakan.

Bollinger Bands ini tidak terbatas hanya untuk mengantisipasi memantulnya harga dari Upper dan Lower Band saja. Alasannya, harga juga dapat bergerak menembus batas support atau resistance (Breakout), terutama selama gelang Bollinger mengalami penyempitan.

Kita harus mencermati bagaimana gelang Bollinger mengalami penyempitan selama pasar memasuki periode konsolidasi. Trader dapat memprediksi arah trend Forex ketika candlestick bergerak menembus Lower Brand, lalu membentuk periode tren menurun (Downtrend)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here