Produksi Jagung Tetap Surplus Saat Kemarau, Ini Jurus yang Dilakukan Nganjuk

0

KabarUang.com, Nganjuk – Produksi jagung di Kabupaten Nganjuk tetap surplus saat kemarau. Bahkan saat ini luas tanamnya mencapai 31 ribu hektare. Varietas yang ditanam pun yakni Nakulaa Sadewa (Nesa) SinKembar Tongkol yang mampu meraup Rp 1 triliun.

Ilustrasi via Jpnn

“Usaha tani di jagung ini cukup menjanjikan, perputarannya bisa mencapai Rp 1 triliun. Hitungannya biaya produksi per hektare mencapai 15 juta dengan provitas 9 ton per hektare, di sini minimal 7 ton per hektar. Jadi bila 1 kilogram jagung butuh biaya produksi Rp 1.600 kemudian harga jualnya Rp 3.800 maka ada sisa keuntungan Rp 2.200 per kilogram,”jelas Direktur Jenderal Tanam Pangan, Kementrian Pertanian (Kementan) Suwandi pada saat panen raya varietas jagung Nakulaa Sadewa (Nasa) SinKembar Tongkol di Desa Joho Kabupaten Nganjuk, pada Jumat (6/9) dilansir republikaonline.com.

Baca Juga  Kementan Amankan Stok Cabai Saat Musim Kemarau

Beliau juga menyatakan dengan pendapatan Rp 30 juta per hektare, bila dikalikan luas 31 ribu hektare maka perputarannya bisa mencapai Rp 1 triliun. Jika dihitung bersih, pendapatannya yakni Rp 700 miliar. Dia berpendapat bahwa hasil yang diraup panen jagung ini karena petani mulai menerapkan 9 jurus sebagai solusi untuk mengatasi kenaikan harga input dan penurunan harga output (jualP).

“Di sisi lain, kami apresiasi atas kerja keras yang telah dilakukan pemerintah daerah dan TNI selama ini,”ungkapnya.

Masalah harga jagung, Suwandi mengatakan ada solusi permanen dalam mengatasinya. “Pemerintah ingin petani menjadi mandiri dengan mencari faktor pembentuk harga sebagai penyebabnya,”tambahnya.

Adapun 9 tips permanen yang bisa menaikkan harga input dan menurunkan harga output. Pertama yakni efisiensi input. Cara mengatasinya yakni dengan benih unggul, pestisida nabati dan hayati buatan sendiri, pupuk organik, mekanisme sehingga input lebih murah dan saat harga output jatuh masih bisa di atas Break Event Point (BEP).

Baca Juga  Mafia Pangan Serang Mentan dengan Isu Negatif

“Kedua, kemitraan dengan Bulog, industri pakan, maupun peternak rumah tangga. Ketiga, perbaikan sistem logistik melalui tunda jual dan keempat melalui resi gudang,”ujarnya.

Selanjutnya yakni melalui hilirisasi. Usaha pasca panen dan mengolah panen untuk meningkatkan nilai tambahan. Keenam yakni kelembagaan kelembagaan petani harus naik kelas, sehingga petani bersatu membentuk koperasi, BUMP, BUMR ataupun korporasi.

“Nantinya kebutuhan input produksi dilayani korporasi, bisa mitra dengan pabrikan bisa melayani pasar, juga melayani kartu kredit,”jelasnya. Selanjutnya yang ketujug yakni manfaatkan asuransi. Hal ini dilakukan agar asuransi tidak hanya untuk padi saja agar distribusi diperlancar dari petani ke konsumen.

Baca Juga  Nilai Tukar Petani Naik Sejalan dengan Kesejahteraan Petani yang Meningkat

Selanjutnya yakni, manfaatkan asuransi. Hal ini dilakukan agar ada koordinasi dengan Jasindo untuk memberi asuransi bukan hanya untuk pagi, tetapi juga untuk komoditas jagung. Contohnya saja di Lampung, sudah jalan 9 ribu hektare. Kedelapan yaitu memperlancar distribusi petani ke konsumen.

“Terakhir kesembelan, perbaikan struktur tata niaga. Saatnya petani berubah dari price taker menjadi piece maker. Memotong rantai pasok, buka pasar langsung, pasar lelang, startup dan lainya. Kelola secara baik melalui kelembagaan tani dan kemitraan,”tutupnya.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here