Neraca Perdagangan Diperkirakan Surplus Tipis pada Juni

0

KabarUang.com, Jakarta – Neraca perdagangan diperkirakan surplus tipis pada Juni. Surplus US$500 juta hingga US$687 juta ini didorong oleh musim libur dan kinerja impor yang melambat.

Ilustrasi via Pixababy

Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede mengatakan bahwa neraca perdagangan akan mengalami sedikit peningkatan dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang tercatat surplus US$210 juta.

“Adapun peningkatan surplus Juni didorong oleh laju pertumbuhan bulanan impor yang lebih lambat dibandingkan ekspor,”ungkap Josua dilansir bisnis.com pada Minggu (14/07).

Baca Juga  Golden Flower Akan Catatkan Saham Perdananya

Beliau juga mengatakan laju ekspor Juni ini diperkirakan tercatat -3,52% (y-o-y) yang dipengaruhi oleh penurunan volume.

“Hal ini karena masih lemahnya aktivitas menufaktur mitra dagang Indonesia dan harga komoditas eksporseperti CPO,”tambahnya.

Laju impor diperkirakan tercatat 5% (y-o-y). Bleiau memprediksi impor tertekan oleh volume seiring dengan melambatnya aktivitas manufaktur domestik. Namun Josua menilai laju pertumbuan bulanan baik ekspor maupun imporcenderung melambat.

“Ini dikarenakan libur Lebaran pada awal bulan Juni,”terangnya.

Baca Juga  Perdebatan Tentang Cara Mengatasi Perubahan Besar dan Transformasional di Dunia Kerja Berlangsung di Konferensi Perburuhan

Di sisi lain seorang ekonom Center of Reform on Economic (CORE) MuhammasFaisal mengatakan bahwa momen Idul Fitri yang jatuh pada bulan Juni lalu membuat kegiatan ekspor dan impor menurun tajam.

“Maka perkiraan saya ada surplus tipis kurang dari USD$500 juta. Tidak jauh beda dengan bulan sebelumnya,”terang Faisal.

Beliau juga mengatakan alasan surplus ini bukan karena tingginya ekspor namun lebih kepada turunnya impor. Oleh karena itu dua menilai masalah tingginya impor migas di Indonesia adalah masalah struktural yang masih menjadi masalah pemerintah.

Baca Juga  Menteri Koordinator Kemaritiman Diminta Jokowi Untuk Tingkatkan Budidaya Perikanan Indonesia

“Itu masalah struktural kita yang dengan impor migas tinggi, maka potensi defisit ke depan masih besar karena harga minyak dunia masih berpotensi meningkat,”paparnya.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here