ILO Umumkan Bahwa Jumlah Buruh Anak di Dunia Harus Segera di Tiadakan

0
ilustrasi via humanium com
ilustrasi via humanium com

KabarUang.com , Jakarta – Organisasi perburuhan di seluruh dunia, ILO menyerukan diakhirinya penggunaan buruh anak-anak, yang mengorbankan puluhan juta anak di seluruh dunia.

Diantara seratus lima puluh dua juta buruh anak, terdapat anak-anak yang baru berusia lima tahun. Kebanyakan mereka bekerja seperti budak, dengan upah sedikit ataupun tanpa upah sama sekali. ILO melaporkan hampir separuh dari mereka bekerja dalam lingkungan yang buruk bagi anak-anak, dimana mereka terpapar pada kondisi yang tidak sehat dan sangat berbahaya.

Kata laporan itu, sebagian besar anak-anak itu bekerja di sektor pertanian, yang lainnya bekerja di pertambangan, konstruksi, perikanan dan sebagai pembantu rumah tangga.

Baca Juga  Dinamika Perdagangan Global, Berdampak Langsung Kepada Aliran Investasi

Beate Andrees, kepala bagian Prinsip Dasar dan Hak Dalam Bidang Pekerjaan pada ILO, mengatakan bahwa anak-anak yang terperangkap dalam bentuk pekerjaan yang paling buruk seperti pelacuran dan perbudakan, menderita cedera fisik dan kejiwaan yang tidak bisa dipulihkan

“Menurut standar ILO, bentuk-bentuk pekerjaan yang paling buruk adalah pekerjaan yang berbahaya dan merusak perkembangan anak-anak. Ini termasuk buruh anak yang dipaksa bekerja, atau diperdagangkan, dan juga pengerahan anak-anak dalam konflik bersenjata,” kata Andrees.

Menurut Andrees ada kemajuan yang ingin dicapai dalam mengurangi buruh anak-anak di daerah Asia dan Amerika Latin, tapi di daerah Afrika jumlahnya justru bertambah. Afrika kini punya jumlah buruh anak-anak yang paling besar di dunia.

Baca Juga  Beijing Menjadi Salah Satu tempat China dan Amerika Serikat Lanjutkan Pembicaraan Perdagangan

Sebuah laporan oleh Organisasi Buruh Internasional PBB mengungkapkan bahwa hampir 1 dari setiap 5 anak ikut serta dalam pekerja anak. 40% Dari semua anak usia 5-14 pekerja untuk bertahan hidup, atau sekitar 48 juta anak.

“Ini bukannya karena kurang tindakan, tapi lebih terkait pada perkembangan demografi, migrasi, perubahan iklim dan keadaan ekonomi yang buruk, yang dampaknya berbeda-beda dari satu kawasan dengan kawasan yang lain,” tambah Andrees.

Baca Juga  Resesi Bayangi Ekonomi, Kita Harus Siapkan Diri Kata Jokowi

Meski begitu, Andrees gembira melihat Uni Afrika telah mengambil langkah-langkah penting untuk mengatasi hal ini dengan mengembangkan rencana untuk menghapuskan buruh anak-anak sesuai dengan Tujuan Pembangunan PBB yang Berkesinambungan, menjelang tahun 2025. Namun, kalau tingkat kemajuannya masih seperti sekarang, kata Andrees, kemungkinan target PBB itu tidak akan tercapai pada waktunya.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here