Harga Minyak Mentah di Tutup di Level US$61,82 per Barel Pekan Ini

0
ilustrasi via inilahkoran com

KabarUang.com , Jakarta – Harga minyak dunia tak banyak bergerak pada perdagangan Rabu (19/6), waktu Amerika Serikat (AS). Pasalnya, penurunan stok minyak mentah AS yang lebih besar dari perkiraan mampu diimbangi oleh stabilitas di pasar modal.

Harga minyak dunia tak banyak bergerak pada perdagangan Rabu (19/6), waktu Amerika Serikat (AS). Pasalnya, penurunan stok minyak mentah AS yang lebih besar dari perkiraan mampu diimbangi oleh stabilitas di pasar modal.

Dilansir dari Reuters, Kamis (20/6), harga minyak mentah berjangka Brent ditutup di level US$61,82 per barel, turun tipis US$0,32 atau 0,5 persen.

Pelemahan tipis juga dialami oleh harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$0,14 atau 0,26 persen menjadi US$53,76 per barel. Sebagai catatan, sehari sebelumnya, kenaikan harga harian WTI merupakan yang terbesar sejak awal Januari.

Harga minyak sempat menguat saat Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA) merilis data stok minyak mentah AS yang di luar dugaan merosot 3,1 juta barel pekan lalu. Sebelumnya, para analis memperkirakan penurunan pasokan hanya akan berkisar 1,1 juta barel.
Stok produk kilang juga menyusut di luar dugaan akibat ekspor produk minyak mentah yang meningkat, serta penurunan produksi minyak mentah di saat bersamaan.

“Secara umum, saya pikir laporan (EIA) merupakan laporan yang positif,” ujar Analis Price Futures Group Phil Flynn di Chicago.

Menurut Flynn, meski laporan bersifat mendongkrak harga, pasar masih ragu untuk bergerak lebih tinggi, mengingat sehari sebelumnya harga minyak naik cukup tinggi.

Selain itu, indeks Wall Street yang hampir tak bergerak juga membatasi harga minyak yang kerap mengikuti pergerakan harga ekuitas.
Sebagai catatan, pasar ekuitas relatif stabil setelah Bank Sentral AS Federal Reserve memutuskan untuk menahan suku bunga acuan, sesuai ekspektasi. Keputusan itu diambil setelah menggelar rapat kebijakan selama dua hari pada Selasa (18/6) – Rabu (19/6) pekan ini.

Baca Juga  Cara Melihat Harga Saham Tahunan, Laporan Keuangan

“Pasar minyak mentah berkorelasi dengan itu (pasar ekuitas),” ujar Direktur Energi Berjangka Mizuho di New York.

Sementara itu, tensi tetap tinggi di Timur Tengah menyusul serangan pada dua kapal tanker pekan lalu yang mendongkrak harga. Kekhawatiran akan terjadinya konfrontasi antara Iran dan AS terus bertambah. Terlebih, AS telah menuding Iran sebagai biang keladi serangan tersebut. Namun, Iran telah membantah tudingan tersebut.

Presiden AS Donald Trump menyatakan AS siap untuk melakukan aksi militer untuk menghentikan kepemilikan bom nuklir Iran. Namun, ia tetap terbuka terkait potensi untuk menyetujui penggunaan kekuatan militer demi melindungi pasokan minyak di Negara Teluk.
Di sisi lain, pasar minyak mengacuhkan serangan roket di area selatan Irak yang digunakan oleh perusahaan minyak asing, termasuk perusahaan minyak raksasa AS ExxonMobil.

Dalam serangan itu, tiga orang terluka yang berpotensi meningkatkan tensi antara AS-Iran di kawasan tersebut.

Lebih lanjut, anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) akhirnya sepakat untuk menggelar pertemuan pada 1 Juli 2019 mendatang. Pertemuan tersebut diikuti dengan pertemuan dengan negara sekutu non-OPEC, termasuk Rusia, pada 2 Juli 2019.

OPEC dan sekutunya akan membicarakan kemungkinan perpanjangan kebijakan pemangkasan produksi yang akan berakhir pada bulan ini. Sebagai informasi, kebijakan pemangkasan produksi sebesar 1,2 juta barel per hari telah dilakukan sejak awal tahun untuk mengerek harga.

Baca Juga  Inflansi Melangit, Venezuela Gunakan Cara Barter Untuk Bertahan Hidup

Dilansir dari Reuters, Kamis (20/6), harga minyak mentah berjangka Brent ditutup di level US$61,82 per barel, turun tipis US$0,32 atau 0,5 persen.

Pelemahan tipis juga dialami oleh harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$0,14 atau 0,26 persen menjadi US$53,76 per barel. Sebagai catatan, sehari sebelumnya, kenaikan harga harian WTI merupakan yang terbesar sejak awal Januari.

Harga minyak sempat menguat saat Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA) merilis data stok minyak mentah AS yang di luar dugaan merosot 3,1 juta barel pekan lalu. Sebelumnya, para analis memperkirakan penurunan pasokan hanya akan berkisar 1,1 juta barel.

Stok produk kilang juga menyusut di luar dugaan akibat ekspor produk minyak mentah yang meningkat, serta penurunan produksi minyak mentah di saat bersamaan.

“Secara umum, saya pikir laporan (EIA) merupakan laporan yang positif,” ujar Analis Price Futures Group Phil Flynn di Chicago.

Menurut Flynn, meski laporan bersifat mendongkrak harga, pasar masih ragu untuk bergerak lebih tinggi, mengingat sehari sebelumnya harga minyak naik cukup tinggi.

Selain itu, indeks Wall Street yang hampir tak bergerak juga membatasi harga minyak yang kerap mengikuti pergerakan harga ekuitas.

Sebagai catatan, pasar ekuitas relatif stabil setelah Bank Sentral AS Federal Reserve memutuskan untuk menahan suku bunga acuan, sesuai ekspektasi. Keputusan itu diambil setelah menggelar rapat kebijakan selama dua hari pada Selasa (18/6) – Rabu (19/6) pekan ini.

Baca Juga  Anggaran Bansos Tahun 2020 Diperkirakan Naik 37 Persen

“Pasar minyak mentah berkorelasi dengan itu (pasar ekuitas),” ujar Direktur Energi Berjangka Mizuho di New York.

Sementara itu, tensi tetap tinggi di Timur Tengah menyusul serangan pada dua kapal tanker pekan lalu yang mendongkrak harga. Kekhawatiran akan terjadinya konfrontasi antara Iran dan AS terus bertambah. Terlebih, AS telah menuding Iran sebagai biang keladi serangan tersebut. Namun, Iran telah membantah tudingan tersebut.

Presiden AS Donald Trump menyatakan AS siap untuk melakukan aksi militer untuk menghentikan kepemilikan bom nuklir Iran. Namun, ia tetap terbuka terkait potensi untuk menyetujui penggunaan kekuatan militer demi melindungi pasokan minyak di Negara Teluk.
Di sisi lain, pasar minyak mengacuhkan serangan roket di area selatan Irak yang digunakan oleh perusahaan minyak asing, termasuk perusahaan minyak raksasa AS ExxonMobil.

Dalam serangan itu, tiga orang terluka yang berpotensi meningkatkan tensi antara AS-Iran di kawasan tersebut.

Lebih lanjut, anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) akhirnya sepakat untuk menggelar pertemuan pada 1 Juli 2019 mendatang. Pertemuan tersebut diikuti dengan pertemuan dengan negara sekutu non-OPEC, termasuk Rusia, pada 2 Juli 2019.

OPEC dan sekutunya akan membicarakan kemungkinan perpanjangan kebijakan pemangkasan produksi yang akan berakhir pada bulan ini. Sebagai informasi, kebijakan pemangkasan produksi sebesar 1,2 juta barel per hari telah dilakukan sejak awal tahun untuk mengerek harga.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here