ilustrasi via kontak perkasaf com
ilustrasi via kontak perkasaf com

KabarUang.com, Jakarta – Harga minyak dunia terperosok sekitar 4 persen pada perdagangan hari rabu kemarin waktu Amerika Serikat (AS). Pelemahan disebabkan oleh kenaikan stok minyak mentah AS yang di luar dugaan. Pelemahan juga disebabkan penurunan proyeksi permintaan minyak global. Dilansir dari Reuters, Kamis (13/6), harga minyak mentah berjangka Brent turun US$2,32 atau 3,7 persen menjadi US$59,97 per barel, terendah sejak penutupan perdagangan pada 28 Januari 2019.

Pelemahan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$2,13 atau 4 persen menjadi US$50,72 per barel, terendah sejak 14 Januari 2019.

Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA) melaporkan stok minyak mentah Negeri Paman Sam pekan lalu kembali melonjak secara tak terduga sebesar 2,2 juta barel menjadi 485,5 juta barel. Padahal, para analis memprediksi stok merosot sebesar 481 ribu barel.

Baca Juga  Kena Imbas Perang Dagang Sebabkan 33 Perusahaan Tidak Lirik Indonesia

EIA menjelaskan jumlah stok minyak mentah AS pekan lalu merupakan yang tertinggi sejak Juli 2017 dan 8 persen di atas rata-rata dalam lima tahunan pada periode yang sama.

“Ini pasti sebuah pasar yang masih memiliki ketidakyakinan terhadap kenaikan persediaan dan mereka tidak akan bisa melihat lebih jauh dari itu,” ujar analis Price Futures Group Phil Flynn di Chicago.

Menurut Flynn, semakin sulit untuk menebak informasi apa yang akan EIA tambahkan setiap pekannya. Pada Selasa (11/6), EIA juga memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia tahun ini yang turut menekan harga minyak berjangka.

Selain itu, tensi perdagangan antara AS dan China juga ikut membebani harga. Sebagai catatan, kedua negara merupakan dua konsumen minyak terbesar di dunia.

Presiden AS Donald Trump menyatakan ia merasa kesepakatan dagang dengan China dapat terwujud. Namun, di saat yang sama, ia juga mengancam bakal mengerek tarif impor produk China jika Negeri Tirai Bambu itu jika tidak terjadi kesepakatan antara keduanya.

Baca Juga  Indeks Dolar AS Kini Sedang Bergerak Lesu, Investor Mulai Cermati Data Ekonomi Yang Baru

Manajer investasi juga mengubah posisi taruhannya dari harga bakal naik ke kondisi sebaliknya dengan laju yang tercepat sejak kuartal IV 2018. Hal itu dilakukan akibat meningkatnya kekhawatiran terkait kesehatan perekonomian global.

Sejak awal tahun, Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, termasuk Rusia, telah menjalankan pemangkasan produksi sebesar 1,2 juta barel per hari (bph) demi mendongkrak harga. Goldman Sach menyampaikan proyeksi makroekonomi yang diliputi ketidakpastian dan produksi minyak yang bergejolak dari Iran dan produsen lain dapat mendorong OPEC untuk memperpanjang kebijakan pemangkasan produksinya.

Nasib keberlanjutan kebijakan pemangkasan produksi itu akan ditentukan dalam pertemuan OPEC dan sekutunya yang akan digelar pada akhir Juni 2019 di Wina, Austria. Pada Selasa (11/6) lalu, Menteri Energi Arab Suadi Suhail bin Mohammed Mazroui menyatakan anggota OPEC hampir mencapai kesepakatan untuk melanjutkan kebijakan pemangkasan produksi.

Baca Juga  Tarif Tol Didiskon Sebesar 15% Untuk Yang Mudik Lebih Awal

Sumber Reuters dariOPEC mengungkapkan Aljazair telah melontarkan ide untuk mengerek besaran produksi yang dipangkas olehOPEC dan sekutunya untuk paruh kedua tahun ini. Hal itu seiring dengan proyeksimelandainya permintaan. Namun demikian,perpajangan kebijakan pemangkasan produksi yang berlaku saat ini masih menjadi pilihan yang kemungkinan besar akan diambil.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here