Setelah Dua Abad Kaisar Akihito Turun Tahta, Begini Nilai Gaya Kepemimpinannya

0

KabarUang.com , Jepang – Jepang menggelar upacara pengunduran diri Kaisar Akihito yang berlangsung, Selasa (30/4). Setelah dua abad kekaisaran Jepang, itu merupakan kali pertama seorang kaisar turun takhta.

Kaisar Akihito yang berusia 85 tahun menyerahkan takhta kepada anaknya, Putra Mahkota Naruhito. Selama 28 tahun menjadi kaisar Jepang, Akihito dianggap sebagai pemimpin yang dapat dijadikan panutan.

Gaya kepemimpinan Akihito dinilai dapat diterapkan di semua tipe organisasi, mulai dari nirlaba, bisnis, hingga lembaga keagamaan. Akihito dianggap juga bisa jadi contoh dalam menangani masalah rumit seperti suksesi lintas generasi.

Baca Juga  Menko Luhut Mulai Minta PLN Tidak Usah Monopoli SPLU
ilustrasi via korankaltim com
ilustrasi via korankaltim com

Berbeda dari kaisar sebelumnya yang naik takhta karena kematian pendahulunya–termasuk saat Akihito menjadi Kaisar karena menggantikan ayahnya yang meninggal dunia pada 1989–Akihito justru menyerahkan tongkat estafet kepada anaknya saat masih hidup. Padahal, Akihito punya kesempatan menjadi kaisar seumur hidupnya sampai mengembuskan napas terakhir.

Akihito mencerminkan sikap yang tidak mementingkan diri sendiri, rendah hati, dan visioner. Sikap-sikap ini mesti dimiliki oleh pemimpin untuk membangun organisasi mereka.

Baca Juga  Ini Dia Harta Artis Terkaya dan Berbakat Kelas Dunia Taylor Swift

Dikutip dari Insiders, Akihito dianggap berbeda karena banyak pemimpin di dunia yang menolak pensiun karena sejumlah alasan. Akihito mendobrak peraturan di Jepang yang menyatakan bahwa seorang kaisar melayani sampai mati dan tidak ada ketentuan untuk turun takhta.

Dengan menyerahkan kekuasaan kepada anaknya, Akihito dapat melihat tanggung jawab anaknya dalam memimpin Jepang. Akihito disebut bakal menjadi mentor dan penasihat untuk anaknya, Naruhito yang menjadi kaisar.

Baca Juga  Memperingati Hari Pancasila Anies Baswedan Gratiskan PBB Bagi Keluarga Pahlawan

Secara tersirat, Akihito juga dianggap percaya dengan kemampuan anaknya sebagai penggantinya. Pasalnya, karena masih hidup, kinerja putranya tentu akan dibandingkan langsung dengan dirinya. Akademisi Jepang menggambarkan Pangeran Naruhito sebagai orang yang memiliki kepribadian dan prioritas untuk melanjutkan kekuasaan.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here