KabarUang.com , Jakarta – Bulan Ramadan tak hanya mendatangkan berkah pahala, tetapi juga peluang untuk menambah penghasilan. Perencana Keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andi Nugroho mengungkapkan sejumlah peluang terbuka bagi masyarakat yang ingin membuka usaha musiman. Salah satu peluang usaha yang terbuka adalah menjual makanan berbuka puasa.

ilustrasi via ramadhan tempo com
ilustrasi via ramadhan tempo com

“Banyak pedagang musiman yang khusus menjual menu berbuka puasa. Mulai dari yang sederhana seperti kolak pisang, cendol, es teler, sampai makanan berat,” ujar Andi.

Selain makanan berbuka puasa, menurut dia, ada pula peluang usaha untuk membuat makanan kecil dan kue-kue lebaran.

“(Kue-kue) banyak dicari untuk meramaikan meja menyambut tamu yang datang ke rumah. Bahkan, ini bisa diperluas dengan bisnis membuat parsel berisi kue-kue lebaran,” ujarnya.
Sementara bagi yang tak punya keahlian memasak, menurut dia, menjual baju muslim dan keperluan salat bisa menjadi pilihan.

Baca Juga  Naik Sebanyak 19%, Pendapatan Konsolidasi Jababeka Ada Sebanyak Rp584 Miliar

“Produk ini biasanya sudah mulai dicari dari awal Ramadan. Menjual baju dan apparel lebaran juga bisa jadi tambahan produk yang menjanjikan,” jelasnya.

Peluang, menurut dia, juga ada untuk Anda yang ingin menyediakan tenaga pengasuh anak atau tenaga membersihkan rumah. Tenaga tersebut bisa mengisi kekosongan dari tenaga asisten rumah tangga (ART) yang biasanya pulang kampung.

Sementara untuk permodalan, besarannya tergantung jenis usaha yang dipilih. Sumbernya juga bisa berasal dari tabungan pribadi atau pinjam dari orang tua, saudara ataupun teman.

Namun, jika modal terbatas, Andi menyarankan untuk membantu menjual barang orang lain (reseller) secara online. Modal yang diperlukan cukup kuota data internet. Hasil atau keuntungan dari usaha selama Ramadan, menurut Andi bisa menjadi uang tambahan pemenuhan kebutuhan sehari-hari, beli baju lebaran, hingga menambah uang saku pada saat mudik lebaran. Namun, ia mengimbau agar sebagian keuntungan itu disisihkan untuk tabungan atau investasi.

Baca Juga  Presiden Trump Minta Langsung Investigasi Karena Prancis Incar Pajak Google dan Facebook Cs

“Akan lebih bijak sebelum digunakan untuk kebutuhan sehari-hari atau bersenang-senang, sisihkan 10 persen untuk ditabung atau diinvestasikan,” ujarnya.

Perencana keuangan OneShildt Budi Raharjo menambahkan sejumlah hal perlu diperhatikan bagi pelaku bisnis musiman. Pertama, pilih waktu yang sesuai untuk memasarkan produk yang dijual. Usahakan lakukan sedini mungkin agar tidak kehilangan momentum.

“Sedini mungkin sehingga ada waktu untuk masa promosi dan lain sebagainya,” terangnya.

Kedua, karena banyak pesaing, usahakan produk atau jasa yang diberikan memiliki kekhasan tersendiri, misalnya menjual makanan dengan tampilan yang menarik atau parsel dengan kemasan yang kreatif. Dengan demikian, menurut dia, tak menutup kemungkinan usaha yang didukung oleh kreativitas bisa berlanjut meski bulan Ramadan berakhir.

Ketiga, Anda juga harus mengantisipasi apabila produk tidak habis setelah lebaran usai. Hal ini sebagai upaya untuk memitigasi kerugian dan membantu dalam menyusun perencanaan.

Baca Juga  Tenaga Nuklir Belum Dilakukan Secara Masif, Pemerintah Pandang Edukasi Nuklir Perlu Ditingkatkan

“Apakah barang-barang yang tersisa masih bisa dijual setelah lebaran atau disimpan atau dibuang?’ tanya dia.

Terakhir, Anda harus tahu sasaran pasar dari produk atau jasa yang ada tawarkan. Dengan mengetahui sasaran, Anda akan bisa menyusun strategi pemasaran yang tepat. Ia mencontohkan untuk usaha menjual makanan buka puasa untuk anak kuliah, pilih lokasi yang banyak dilewati anak kuliah seperti di dekat kampus.

“Bulan Ramadan ini, selain bulan yang membawa berkah bagi yang berpuasa dan beribadah, juga bulan yang membuka banyak kesempatan bagi usaha rumah tangga dan usaha mikro, kecil, dan menengah,” pungkasnya.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here