KabarUang.com , Jakarta – Harga minyak mentah berjangka dunia tak banyak bergerak pada perdagangan Rabu (1/5), waktu Amerika Serikat (AS). Kemungkinan perpanjangan kebijakan pemangkasan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang mengimbangi kenaikan stok dan produksi minyak mentah AS menjadi sentimen pemicunya.

ilustrasi via indopetronews com
ilustrasi via indopetronews com

Dilansir dari Reuters, Kamis (2/5), harga minyak mentah berjangka Brent menguat US$0,12 atau 0,2 persen menjadi US$72,18 per barel. Selama sesi perdagangan berlangsung, harga Brent sempat tertekan ke level US$71,3 per barel.

Sementara, harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) melemah US$0,31 atau 0,5 persen menjadi US$63,6 per barel. Selama sesi perdagangan berlangsung, harga WTI sempat melemah ke level US$62,77 per barel.

Baca Juga  Aktivitas Sekitar Tanah Abang Kembali Normal Usai Kerusuhan 22 Mei

Harga Brent sebenarnya berhasil bangkit setelah Menteri Energi Oman Mohammed bin Hamad al-Rhumy mengatakan OPEC berkeinginan untuk memperpanjang kebijakan pemangkasan produksi pada pertemuan yang akan digelar pada Juni 2019 mendatang.

Sejauh ini, harga minyak mentah dunia telah menguat lebih dari 30 persen karena kebijakan pemangkasan produksi sebesar 1,2 juta barel per hari (bph) yang dilakukan OPEC sejak awal tahun. April lalu, secara bulanan, Brent menguat 6,5 persen dan WTI 6,3 persen.

Baca Juga  Pupuk Indonesia Siapkan Sebanyak 1,32 Juta Ton Stok Pupuk Untuk Subsidi Di Libur Lebaran

Dengan kondisi tersebut artinya, kedua harga acuan telah menguat selama empat bulan berturut-turut. AS telah meminta OPEC untuk mengerek produksinya demi mengimbangi berkurangnya pasokan dari Iran.

Namun, Arab Saudi yang merupakan pemimpin de facto OPEC menyatakan OPEC tidak memiliki rencana untuk segera mengabulkan permintaan AS tersebut. Bahkan, kebijakan pemangkasan tersebut dapat diperpanjang hingga akhir 2019.

Harga minyak mentah juga mendapatkan dorongan dari Venezuela yang mengancam ekspor minyaknya. Ekspor Venezuela sendiri telah berkurang karena pengenaan sanksi AS.

Baca Juga  Sebentar Lagi MRT Jakarta Fase II Bundaran HI-Kota Akan Segera Beroperasi

Pada Rabu (1/5) kemarin, ribuan pendukung pemimpin oposisi Venezuela Juan Guaido menggelar aksi unjuk rasa melawan pemerintahan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Banyak pengamat khawatir, aksi protes tersebut dapat meningkat menjadi aksi kekerasan dan mengganggu pasokan minyak mentah Venezuela kendati lokasi lapangan minyaknya jauh dari ibu kota Caracas.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here