BEI Telaah Laporan Keuangan Garuda Indonesia Akibat Dua Perbedaan Pendapat

0
ilustrasi via thehansindia com
ilustrasi via thehansindia com

KabarUang.com , Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan saat ini tengah menelaah laporan keuangan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Telaah ini dilakukan terkait adanya perbedaan pendapat antara dua komisaris perseroan dengan jajaran manajemen tentang pencatatan transaksi dengan PT Mahata Aeroteknologi (Mahata) sebagai pendapatan dalam laporan keuangan perseroan.

Direktur Utama BEI Inarno Djajadi mengatakan dalam telaah tersebut bursa telah berdiskusi dengan beberapa pihak terkait perbedaan pendapat pada pencatatan pendapatan di laporan keuangan Garuda. Bursa juga telah meminta pendapat kepada Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) dan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI).

Baca Juga  Akibat Kerusuhan 22 Mei Nilai Tukar Rupiah Tembus Posisi Rp14.515 per dolar AS

Selain itu, bursa juga telah memanggil manajemen perusahaan dan kantor akuntan publik (KAP) Tanubrata Sutanto Fahmi Bambang dan Rekan sebagai auditor laporan keuangan Garuda Indonesia.

Saat ini, lanjutnya, bursa tengah menunggu pendapat dari IAI. Selanjutnya, pendapat dari IAI akan digabungkan dengan pendapat dari pihak-pihak terkait yang akan dijadikan acuan pengambilan keputusan oleh bursa.

Namun, ia belum memastikan kapan tepatnya bursa akan menyampaikan kesimpulan atas kisruh laporan keuangan Garuda Indonesia. Ia hanya mengatakan bila nantinya hasil telaah menunjukkan kejanggalan, pihaknya akan meminta Garuda menyampaikan kembali (restatement) laporan keuangan tahun buku 2018.

Baca Juga  Dua Komisaris PT Garuda Indonesia Enggan Tanda Tangani Laporan Keuangan 2018

“Bisa saja (restatement laporan keuangan), bisa terjadi kalau kami melihat bahwasanya ada keanehan. Segala macam bisa saja kami minta untuk direstatement,” katanya di Gedung BEI, Selasa (21/5).

Seperti diketahui, dua komisaris Garuda Indonesia, Chairal Tanjung dan Dony Oskaria, menolak menandatangani laporan keuangan 2018 karena tak setuju dengan keputusan manajemen menjadikan piutang dari transaksi kerja sama dengan Mahata menjadi pendapatan perusahaan.

Baca Juga  BEI Menghapus Pencatatan Efek Saham Milik PT Sekawan Intipratama Tbk Di Pasar Modal Juni 2019

Dari kerja sama itu, Garuda Indonesia seharusnya meraup pendapatan sebesar US$239,94 juta. Namun, hingga akhir 2018 Mahata belum juga membayarnya ke perusahaan.

Keputusan manajemen membuat Garuda Indonesia membukukan laba bersih sebesar US$809,84 ribu pada 2018. Realisasi itu berbanding terbalik dengan kondisi 2017 yang masih rugi sebesar US$216,58 juta.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here