Waspadalah Jika Bangun Infrastruktur Kerja Sama dengan Asing

0
Ilustrasi Bangun Infrastruktur via gesuri id
KabarUang.com, Jakarta – Menteri Perhubungan atau yang disingkat dengan Menhub, yakni Budi Karya Sumadi menilai bahwa pembangunan infrastruktur dilakukan harus dengan sangat hati-hati apabila dilakukan kerja sama baik dari sisi investasi ataupun pengoperasian dengan asing.

Saat ditemui dalam kunjungan kerjanya di Bogor dan juga Sukabumi, Budi juga mengatakan kalaupun dikerjasamakan dengan asing, aset tetap dimiliki negara dan sumber daya manusia (SDM) dalam negeri tetap dominan.

“Jadi dalam kerja sama itu kita sangat hati-hati, kalaupun ada itu konsesi kita tetap mayoritas dan kita lakukan pada kegiatan-kegiatan yang tidak membahayakan,” katanya dilansir dari okezone com, Jumat (5/4/2019)

Baca Juga  Alasan Mengapa Tol Laut Dapat Turunkan Harga Barang

Saat ini juga pemerintah tengah melakukan tender untuk kerja sama badan usaha atau juga yang disebut dengan KPBU di Bandara Komodo, Labuan Bajo, Nusa Tengara Timur di mana kerja sama tersebut terbuka bagi swasta manapun, baik nasional ataupun asing.

“Itupun kita minta agar lokal tetap mayoritas kalaupun sekarang ini ada pelabuhan yang kerja sama dengan asing, cuma ada di Jakarta,” katanya dilansir dari okezone com

Pelabuhan yang dimaksud adalah Pelabuhan Tanjung Priok yang dimana perusahaan yang mengoperasikan terminal kargo, yakni Jakarta International Cargo Terminal (JICT) sebagian besar sahamnya dimiliki oleh perusahaan asing asal Hong Kong, yaitu Hutchison Port Holding Group (HPH).

Baca Juga  Bappenas Resmi Lantik Venje Rahardjo Sebagai KNKS

Sahamnya mayoritas dimiliki Hutchison Port Holding Group (HPH Group) yaitu ada sebesar 51 persen, sisanya sekitar 48,9 persen dimiliki Pelindo II dan juga 0,1 persen dimiliki Koperasi Pegawai Maritim. Selain itu, Budi juga menambahkan Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya juga pernah dikerjasamakan dengan Dubai Port World di PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS).

Dia juga berpendapat kerja sama asing di berbagai negara biasa dilakukan dengan skema “business to business”, seperti navigasi penerbangan di Bandara Heathrow l, kemudian London, lalu Inggris, yang dioperasikan oleh perusahaan swasta.

Baca Juga  Penyaluran B20 Sudah Mencapai 700.000 Kiloliter

“Kualanamu juga kita lagi diskusi untuk konsensi tapi juga terbatas pada sumber daya manusia, kita tahu persis mana yang mesti kita kerja samakan mana yang menjaga kedaulatan negara,” katanya dilansir dari okezone com

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here