Sri Mulyani Akui Tingkat Partisipasi Tabungan Masyarakat RI Masih Rendah

0
ilustrasi via pasardana co id



KabarUang.com , NewYork – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengakui tingkat partisipasi tabungan masyarakat masih rendah, sehingga hal itu menghambat pendanaan investasi, termasuk di sektor infrastruktur.

Hal ini disampaikan Sri Mulyani di hadapan 150 mahasiswa Indonesia di Columbia University, AS, Selasa (9/4) waktu setempat. Di dalam forum tersebut, Sri Mulyani memaparkan kondisi ekonomi saat ini dan prospek masa depan.

Sri Mulyani bilang, saat ini tingkat tabungan (saving rate) Indonesia masih rendah, yakni berkisar antara 30 persen hingga 33 persen. Angka ini dipandangnya lebih rendah dibanding China, tapi lebih baik dibanding negara-negara Amerika Latin.

Baca Juga  Sri Mulyani Minta Ekspor Makin Digenjot Karena Neraca Dagang Bulan Juni Surplus USD200 Juta

Berdasarkan data Bank Dunia, tingkat tabungan kotor (gross saving rate) Indonesia pada 2017 berada di angka 30,87 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini memang lebih rendah dibanding China yakni 47 persen, dan memang lebih baik dibanding negara seperti Brazil yakni 15 persen, Argentina 13 persen, atau Chile yang ada di angka 21 persen.

“Saving rate di indonesia masih sekitar 30 hingga 33 persen. Kondisi ini masih di bawah sejumlah negara besar seperti China,” jelas Sri Mulyani melalui keterangan resmi dikutip Rabu (10/4).

Baca Juga  Sri Mulyani Kini Kembali Membahas RAPBN Tahun 2020

Menurut dia, rendahnya saving rate di Indonesia disebabkan masyarakat lebih senang berinvestasi di aset tetap seperti tanah. Padahal, himpunan tabungan di produk jasa keuangan sangat bermanfaat untuk pendanaan investasi, utamanya infrastruktur.

Urunan dana masyarakat sangat penting agar infrastruktur tak melulu menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Tahun ini, pemerintah mengalokasikan anggaran infrastruktur senilai Rp415 triliun atau naik 2,4 persen dibanding tahun sebelumnya Rp410,4 triliun.

Tingginya tingkat tabungan, lanjut dia, juga berguna agar daya tahan ekonomi semakin membaik pasca diserang taper tantrum 2013 silam. Adapun, taper tantrum adalah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS secara serentak dan mengakibatkan aliran modal keluar dari Indonesia, lantaran The Fed memberi sinyal akan menaikkan suku bunga acuan.

Baca Juga  Direktur BPJS Kemal Imam Santoso Katakan Kenaikan Iuran Dapat Bantu Keuangan BPJS

“Dibandingkan empat fragile country lain (Brazil, India, Turki, dan Afrika Selatan), Indonesia menjadi salah satu yang paling berdaya tahan di dunia,” imbuhnya.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here