Perusahaan Migas Pada Zaman Sekarang Mudah Terdepak

0
Ilustrasi Migas via kalimantan bisnis com
KabarUang.com, Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral atau yang disingkat dengan ESDM, yakni Ignasius Jonan berupaya mendorong industri minyak dan gas bumi (migas) untuk segera berubah mengikuti zaman. Menurutnya industri migas pada saat ini menjadi salah satu industri yang tumbuhnya kian melambat.

Industri migas juga sama dengan pertambangan yang sama-sama pertumbuhannya sangat lambat. Artinya, hal ini juga tidak bisa dibiarkan, karena industri kita bisa tertinggal.

“Terus terang sektor hulu migas ini sama kayak tambang berubahnya telat. Nanti perubahan telat ketinggalan zaman,” ujarnya dalam acara pelantikan di Ruang Sarulla, Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (4/4/2019) seperti dikutip dari okezone com

Baca Juga  Bappenas Resmi Lantik Venje Rahardjo Sebagai KNKS

Bukti jika industri migas itu tertinggal, tidak adanya perusahaan migas yang masuk ke dalam 10 perusahaan besar di dunia. Padahal sekita 10 tahun lalu atau 2008, perusahaan migas masih menjadi perusahaan terbesar di dunia.

“10 tahun lalu, 2008, 10 perusahaan besar di dunia itu perusahaan migas. 2018 itu sudah tidak ada, 10 perusahaan terbesar di dunia ini enggak ada. Kecuali kalau Saudi Aramco go public mungkin bisa masuk. Makanya industri migas mulai tertinggal,” katanya seperti dikutip dari okezone com

Mantan Menteri Perhubungan ini pun langsung membandingkan industri migas dengan telekomunikasi. Menurutnya, perubahan industri telekomunikasi dinyatakan sangat cepat, terbukti dalam satu tahun ada beberapa model handphone baru yang dijual ke publik.

Baca Juga  BRI Kucurkan Kredit Rp 843 Triliun Sepanjang 2018

Selain itu juga ongkos produksinya juga bisa lebih murah. Akan tetapi ketika dijual ke pasaran, harga handphone sangat mahal dan juga bukan labanya lebih besar dibandingkan ongkos produksinya.

“Saya kagum dengan industri telekomunikasi, bukan makin canggih harganya makin murah. 25 tahun lalu maka satu handphone baru sama dengan harga kijang kotak sekitar Rp25 juta. Handphone yang nyimpen nomor telepon aja enggak bisa dulu Rp25 juta. Sedangkan sekarang sudah canggih,” jelasnya seperti dikutip dari okezone com

Hal tersebut sangat berbanding terbalik dengan industri migas. Industri migas memiliki cost produksinya yang cukup tinggi, akan tetapi minyak yang dihasilkannya tidak banyak.

Baca Juga  Kemenkeu Ingin Adanya Pendalaman Pasar Keuangan Indonesia

“Kalau di hulu migas produksi makin rendah biayanya tinggi,” ucapnya seperti dikutip dari okezone com

Oleh karena itu, kini kita harus dibenahi pertama adalah dari organisasinya. Pembentukan organisasi baru ini harus bisa menyesuaikan pada era jamannya.

“Perbaikilah organisasinya kan jaman berubah jadi organisasi juga harus mengikuti jaman. Sektor hulu migas ini sama dengan sektor pertambangan lain yang tambah pelan, lama-lama ini bisa ditinggal oleh jaman,” katanya seperti dikutip dari okezone com

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here