Kurs Referensi Bank Indonesia Jakarta Interbank Spot Dollar Rate Menempatkan Rupiah di Posisi Rp14.112 per Dolar AS

0
ilustrasi via patinews com
ilustrasi via patinews com

KabarUang.com , Jakarta – Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.105 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Rabu (24/4) sore. Dengan demikian, rupiah melemah 0,18 persen dibandingkan penutupan Selasa (23/4) yang masih di Rp14.082 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.112 per dolar AS atau melemah dibandingkan kemarin yang di Rp14.080 per dolar AS. Adapun di hari ini, rupiah diperdagangkan di kisaran Rp14.091 hingga Rp14.126 per dolar AS.

Sore hari ini, sebagian besar mata uang utama Asia melemah terhadap dolar AS. Won Korea Selatan melemah 0,78 persen, rupee India melemah 0,34 persen, peso Filipina melemah 0,22 persen, dan dolar Singapura melemah 0,13 persen. Kemudian, ringgit Malaysia melemah 0,05 persen dan dolar Hong Kong melemah 0,01 persen.

Baca Juga  Keberadaan Pelabuhan Marunda Dinilai Penting Untuk Menopang Pelayanan Kepelabuhan di Tanjung Priok Yang Sedang Padat

Di sisi lain, terdapat pula mata uang utama Asia yang menguat seperti yen Jepang sebesar 0,02 persen, baht Thailand sebesar 0,05 persen, dan yuan China sebesar 0,13 persen. Kemudian, mata uang negara maju melemah terhadap dolar AS, seperti dolar Australia sebesar 0,82 persen, euro sebesar 0,09 persen, dan poundsterling Inggris sebesar 0,05 persen.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan rupiah tertekan indikator perbaikan ekonomi AS. Tekanan semakin kuat setelah Departemen Perdagangan AS mengatakan penjualan rumah baru naik 4,5 persen secara tahunan menjadi 692 ribu unit pada Maret lalu. Angka ini merupakan data tertinggi dalam 1 hingga 1,5 tahun terakhir.

Baca Juga  Kementan Gelar Operasi Pasar Untuk Stabilkan Harga

Selain itu, pelaku pasar kini tengah menanti rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) AS pada jumat (26/4) mendatang. Jika indikator ekonomi AS terus menunjukkan perbaikan, maka ada kemungkinan bank sentral AS The Fed tidak lagi mempertahankan kebijakan dovish.

“Bagusnya data ekonomi yang dirilis di AS menjadi faktor yang membuat pelaku pasar meragukan pemotongan tingkat suku bunga acuan,” jelas Ibrahim.

Tak hanya itu, pelaku pasar juga khawatir potensi pertumbuhan ekonomi global kian terhambat setelah Presiden AS Donald trump bercuit di akun Twitter pribadinya bahwa ia akan membalas kebijakan Uni Eropa yang membebankan bea masuk atas impor motor Harley Davidson.

Baca Juga  Jokowi Usulkan Pendanaan Special Fund Untuk Perusahaan China Yang Berinvestasi di Indonesia

Walhasil, laba bersih Harley Davidson sampai anjlok 27 persen di kuartal I 2019. “Ini berpotensi bikin meletus perang dagang antara AS dengan Uni Eropa,” jelas Ibrahim.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here