Harga Tiket Pesawat Bisa Murah Jika Holding Penerbangan Tingkatkan Efisien

0
Ilustrasi Penerbangan via pontas id
KabarUang.com, Jakarta – Kementerian Badan Usaha Milik Negara atau yang disingkat dengan BUMN kini tengah gencar membentuk holding perusahaan-perusahaan pelat merah. Harapannya, untuk holding BUMN bisa menjadikan kinerja perusahaan semakin baik dan juga efisien.

Yang terbaru, pemerintah berencana membentuk holding sektor penerbangan. Jika tidak ada lagi aral melintang, tiga perusahaan BUMN yang bergerak di jasa penerbangan akan segera disatukan di bawah sebuah holding company. Ketiga perusahaan itu adalah Angkasa Pura I, lalu Angkasa Pura II, dan juga Garuda Indonesia.

Baca Juga  Ratusan Pementan Dicabut, Investasi Sektor Pertanian Tembus 270 T

Saat ini, rencana pembentukan holding tersebut kini masih dalam tahap pengkajian. Kementerian BUMN kini berharap, holding tersebut juga bisa mengikuti kesuksesan holding lain yang sudah lebih dahulu dibentuk seperti pertambangan yang dipimpin oleh Inalum.

Khusus di sektor penerbangan, untuk pembentukan holding harus dilakukan secara hati-hati karena setiap entitas bisnis BUMN memiliki karakter yang berbeda-beda pada satu sama lain. Angkasa Pura, adalah pengelola bandara, sedangkan untuk Garuda Indonesia adalah operator maskapai penerbangan.

Baca Juga  Jokowi Segera Panggil Freeport soal Rumahkan Karyawan

“Jadi kajiannya harus hati-hati dan detail. Kalau untuk efisiensi katakanlah tujuannya untuk memperbaiki kinerja keuangan, seharusnya bisa dilakukan dengan alternatif yang lain melalui diversifikasi usaha korporat. Jangan sampai justru kinerjanya makin terpuruk,” kata Ekonom Center Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal di Jakarta kemarin seperti dikutip dari okezone com

Menurut dia, jika mengacu pada sistem holding BUMN Pertambangan lewat Inalum, hal itu tidak menjadi banyak masalah, sebab core business masing-masing usaha di dalamnya berada dalam satu koridor yang sama.

Baca Juga  Nilai Tukar Rupiah Berada Di 15.000 Masyarakat Sudah Terbiasa Menurut BI

“Lain kasus dengan yang terjadi di PT Perkebunan, yang digabung tapi kinerjanya justru merosot. Ini karena ada PT Perkebunan lain, yang terpuruk kinerja keuangannya sehingga harus disubsidi,” ujar dia seperti dikutip dari okezone com

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here