Harga Sawit di Lampung Anjlok, Para Petani Hanya Bisa Pasrah

0
Ilustrasi via gimni com

KabarUang.com, Jambi – Harga Tanda Buah Sawit (TBS) dan minyak sawit mentah (CPO) di Provinsi Jambi dan Lampung mengalami penurunan harga pada periode 5 hingga 11 April 2019. Hal ini membuat para petani Jambi resah, pihkanya berharap penurunan harga ini tidak akan berlangsung lama.
Harga Tanda Buah Sawit (TBS) tercatat menurun tipis dari Rp 1.122 jadi Rp 1.113 per kilogram. Sementara harga CPO turun Rp 88 per kilogram dari Rp 6.594 menjadi Rp 6.526.
“Hasil yang ditetapkan tim perumus, untuk harga ini sawit pada periode kali ini naik sebesar Rp 19 dari Rp 3.630 menjadi Rp 3.649 per kilogram,”ujar Pejabat Penetapan Harga TBS Sawit Provinsi Jambi, Putri Rinun, pada Sabtu (6/4) di Jambi dilansir dari republikaonline.com.
Sebelumnya harga TBS dan CPO sempat berfluktuatif pada beberapa periode. Penetapan harga sendiri dilakukan berdasarkan keputusan dari kesepakatan tim perumus harga CPO di Jambi bersama para petani, serta perusahaan perkebunan, juga beberapa pihak terkait.
Hasilnya ialah, harga TBS usia tanam berumur tiga tahun ditetapkan dengan harga Rp 1.122 per kilogram, usia tanam empat tahun Rp 1.190 per kilogram, usia tanam lima tahun seharga Rp 1.245 per kilogram, sedangkan usia tanam enam tahun Rp 1.298, dan usia tanam tujuh tahun Rp 1.331 per kilogram.
Bukan hanya di Jambi, penurunan harga juga terjadi di Lampung, Kabupaten Tulangbawang dan Kabupaten Mesuji. Harga tandan buah segar (TBS) anjlok yakni dari Rp 1.500 menjadi Rp 800 per kilogram.
“Hampir setiap hari harganya turun sebesar Rp 60 untuk setiap kilogramnya. Jadi saat ini harga yang kami terima Rp 800 per kilogramnya,”ujar Santoso, salah satu petani sawit di Kecamatan Rawa Jitu, Kabupaten Tulangbawang, Lampung, pada Sabtu (6/4).
Dia juga mengatakan bahwa penurunan harga sudah terjadi sejak sepekan yang lalu. Para petani saat ini hanya bisa pasrah dan menerima harga yang ditetapkan pengumpul sebab apabila mereka menolak harg ayang diajukan maka sawit yang sudah panen akan membusuk karena tidak laku terjual.
“Apalagi sawit berbeda dengan karet. Kalau sawit tidak dipanen akan merusak batangnya, beda dengan karet yang tahan tidak disadap,”tambahnya.
Santoso berharap pemerintah bisa mengawasi penetapan harga TBS sebab para petani mendapatkan informasi bahwa penetapan harga sawit terendah TBS sudah ditetapkan pemerintah bersama dengan pengusaha sawit.
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Baca Juga  Ternyata Infrastruktur Indonesia Masih Tertinggal Jauh Dibanding Negara Tetangga

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here