Bagaimana Nasib Chanel dan Fendi Sepeninggal Karl Lagerfeld?

0
ilustrasi via dezeen com
 
 
KabarUang.com , Jakarta – Meninggalnya Karl Lagerfeld pada Selasa (19/2) menyisakan luka yang besar di dunia mode secara umum. Namun, luka dan guncangan besar ini juga tertoreh pada rumah mode mewah Chanel dan Fendi.
Tak bisa dimungkiri, Lagerfeld adalah sosok jenius di balik kesuksesan dua rumah mode besar di dunia ini.
Lagerfeld menjadi direktur kreatif Chanel sejak 1983. Di Fendi sendiri, dia sudah bergabung sebagai direktur kreatif sejak 1965. Tak terhitung sukses yang dibuat Lagerfeld lewat koleksi busana dan juga show spektakuler.
Semasa hidupnya Lagerfeld mendefinisikan apa sebenarnya dan bagaimana bentuk busana mewah yang modern di dunia kekinian.
Lepas kepergian Lagerfeld, apa yang bakal terjadi dengan Chanel dan Fendi?
Tak dimungkiri, selama berada di bawah kepemimpinan Lagerfeld, Chanel memang mengalami transformasi besar-besaran. Dari sebuah perusahaan yang sempat stagnan menjadi salah satu label mewah di dunia.
Kala itu, dia didekati oleh keluarga Wertheimer, yang telah menciptakan bisnis wewangian untuk Chanel termasuk parfum blockbuster No. 5 di tahun 1920-an (yang hingga kini masih menjadi parfum terlaris dan terjual setiap enam detik), dan mengambil kendali rumah mode Chanel sejak awal tahun 1954.
Di saat itu, Chanel sudah stagnan selama lebih dari satu dekade sejak kematian pendirinya, Gabrielle ‘Coco’ Chanel. Punya misi dan visi untuk membangkitkan penjualan dan nama besar labelnya seperti dulu, Lagerfeld pun digandeng pada 1983.
Dalam ucapan duka citanya, chief executive officer Chanel Alain Wertheimer – salah satu anggota keluarga Wertheimer – mengungkapkan bahwa Lagerfeld diberikan carte blache (kepercayaan serta kontrak seumur hidup dan kekuasaan tak terbatas untuk berkreasi di Chanel) untuk mengubah brand tersebut.
“Kontrak saya di Chanel hanya berisi satu lembar, hanya untuk pihak bank. Selain itu hanya ada rasa percaya antara saya dan pemilik (keluarga Wertheimer). Selebihnya, saya boleh melakukan apa saja yang saya inginkan,” kata Lagerfeld kepada koresponden CNNIndonesia.com di Paris.
Karl Lagerfeld adalah satu-satunya desianer yang memimpin sebuah rumah mode dengan kontrak seumur hidup, dan hingga kini, dimana setiap desainer berpindah rumah mode setiap tiga tahun atau bahkan kurang, ia menjadi contoh bagaimana dedikasi dan kontinuitas adalah aset yang sangat berharga bagi industri barang mewah.
Di Fendi, kontraknya akan berakhir pada 2045.
Sejak awal bekerja, Lagerfeld pun ‘berambisi’ untuk mengubah gaya Chanel. Hanya saja redesign bukan hal yang mudah. Tak mudah untuk berubah sesuatu yang sudah ada. Bahkan hal ini sempat jadi kontroversi.
Jaket dan gaun tweed bouclé khas Chanel, yang dulu dianggap sebuah lambang kebebasan karena tanpa korset, saat itu dinilainya kuno dan borjuis.
“Orang-orang cenderung lupa bahwa pada suatu waktu, Chanel adalah topi tua,” kata Lagerfeld.
“Hanya istri-istri para dokter Paris yang masih memakainya.”
Namun dia yakin bahwa citra itu dapat diubah dengan rasa humor, untuk menawarkan Chanel yang lebih dinamis dan lebih berwarna serta memikat kalangan muda.
Butuh ‘darah segar’ dan muda untuk meroket. Kebebasan yang diberikan oleh keluarga Wertheimer membuat Lagerfeld mudah bergerak untuk menentukan arah baru Chanel.
Kala itu, Lagerfeld sudah terkenal karena gaun pesta yang lembut dan puitis yang dibuatnya di Chloé pada tahun 1970-an di mana muncul dinamika gerakan siap-pakai di Eropa. Saat yang sama, Lagerfeld, sejak ia pertama kali tiba di Paris, telah memendam hasrat untuk bekerja dengan disiplin khas Jerman yang tinggi sebagai seorang couturier.
Pria berjuluk Kaiser ini mengubah ciri khas Chanel. Twist dilakukannya dengan mengubah Chanel suit, membuat roknya menjadi maxi skirt, memangkas panjang jaket bolero tweed ikonik, dan lainnya.
Di tahun 1980-an dan 1990-an banyak kritikus mode yang mencibir Lagerfeld atas karyanya. Dia dianggap tak sopan misalnya dianggap tak sopan dengan memakai tanda tangan Coco Chanel, memasangkan jaket tweed dengan kulit atau denim. Lagerfeld bertujuan untuk membuat Chanel jadi lebih peka terhadap dunia kekinian dan sisi muda.
Dalam tiap desainnya, Lagerfeld menyuntikkan berbagai keinginan dan sentuhan baru. Memadukan penghormatan pada masa lalu dengan gaya vintage dengan gaya kekinian yang trendi. Dia tak butuh hanya istri dokter-dokter di Paris yang bisa memakai Chanel, tapi juga semua perempuan dari berbagai usia dan profesi.
Ia menciptakan koleksi yang begitu kaya, dan terlihat berbeda untuk masing-masing rumah mode. Ia menjadikan bahan bulu yang sebelumnya dianggap hanya untuk ibu-ibu menjadi sebuah koleksi busana yang ceria.
Kejeniusan dan kreativitas Lagerfeld tak cuma terbatas pada kreasi busana. Sebagai sosok perfeksionis, Lagerfeld juga ingin tiap shownya memiliki ciri khas dan dikenang.
Kenyataannya, hasil kreatifnya tampak semakin melimpah di masa-masa keemasannya.
Baginya, fesyen bukan cuma soal busana, tapi juga moment. Semuanya harus sempurna dalam satu set dan bagian.
Di saat desainer lain mungkin tak mau terlalu pusing dengan urusan panggung. Lagerfeld bersikap sebaliknya. Sama seperti saat dia menciptakan busana, dia juga punya inspirasi jenius soal set panggung yang akan membuat busananya terlihat lebih mencolok.
Ini adalah masa-masa di mana Lagerfeld menggandeng berbagai kemewahan dan totalitasnya di panggung layaknya membuat sebuah panggung teater yang menakjubkan.
Dengan biaya jutaan dolar per musim, show Chanel bahkan acara tersebut melampaui batas-batas peragaan busana dan menjadi sesuatu yang lebih seperti seni pertunjukan berskala besar – sebuah tontonan media di mana Lagerfeld, baik sebagai perancang berbakat dan provokator visual, dapat menunjukkan kemampuannya untuk menjalin superfisialitas mode dengan hal-hal yang sangat mendalam.
Lagerfeld menghadirkan vila romantis di Paris, sungai Seine, hutan, kabin pesawat, bahkan restoran dan supermarket sebagai set panggung mewahnya. Namun semuanya, hanya ada satu benang merah yang selalu dipertahankan Lagerfeld, semuanya punya sentuhan klasik Coco Chanel.
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Baca Juga  Label H&M Akan Coba Jual Pakaian Bekas dan Vintage

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here