Turunnya Produksi Minyak RI Jadi Penyebab Defisit Perdagangan Kata Kemendag

0
Ilustrasi Kemendag via iglobalsnews co id
KabarUang.com, Jakarta – Kementerian Perdagangan atua yang disingkat dnegan Kemendag tengah menilai bahwa defisit neraca perdagangan pada tahun 2018 disebabkan karena turunnya produksi minyak dalam negeri. Neraca perdagangan selama bulan Januari sampai bulan Desember 2018 mengalami defisit sebesar USD8,6 milliar.

Terdiri dari surplus neraca perdagangan nonmigas ada sebesar USD3,8 milliar dan juga defisit neraca perdagangan migas yang sebesar USD12,4 milliar.

“Lonjakan defisit perdagangan migas disebabkan oleh penurunan produksi minyak di dalam negeri, kenaikan impor bahan bakar solar untuk industri, dan dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia. Sementara itu, penurunan surplus perdagangan nonmigas disebabkan oleh kenaikan impor barang modal dan bahan baku/penolong, sebagai konsekuensi dari kegiatan pembangunan infrastruktur dan investasi di tanah air,” ujar Direktur Jenderal (Dirjen) Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Oke Nurwan, di Hotel JS Luwansa Jakarta, Kamis (28/2/2019) seperti dikutip dari okezone com

Baca Juga  Hari Batik Nasional

Dia juga menjelaskan bahwa di tahun 2018, impor barang modal naik sebesar 19,5% dibanding tahun sebelumnya. Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dalam rangka pembangunan infrastruktur, pertambangan dan juga dalam konstruksi berupa alat-alat berat dan permesinan.

“Impor bahan baku juga naik sebesar 20,1% untuk kebutuhan pembangunan infrastruktur, berupa besi atau baja, serta kebutuhan industri pengolahan di dalam negeri. Tahun ini diperkirakan lebih dari 90% impor adalah barang modal dan bahan baku,” tuturnya seperti dikutip dari okezone com

Baca Juga  CIPTADANA SECURITIES

Dia juga menuturkan, bahwa ekspor nonmigas bulan Januari sampai dengan bulan Desember tahun 2018 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu sebanyak USD24,39 miliar, disusul Amerika Serikat USD17,67 miliar dan Jepang USD16,31 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai sekitar 35,90%.

“Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar berasal dari Jawa Barat dengan nilai USD30,37 miliar (16,87%), diikut Jawa Timur USD19,07 miliar (10,59%) dan Kalimantan Timur USD18,56 miliar (10,31%),” ungkapnya seperti dikutip dari okezone com

Baca Juga  Gubernur Bank Indonesia Beberkan Alasan Rupiah Kembali Melemah
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here