Terjadi Perang Swasta Vs BUMN Akibat Rebutan Pengguna Uang Elektronik

Advertisement

Terjadi Perang Swasta Vs BUMN Akibat Rebutan Pengguna Uang Elektronik

Senin, 04 Maret 2019
Ilustrasi BUMN vs Swasta via blog id jobplanet com
KabarUang.com, Jakarta - Kehadiran sistem pembayaran digital ini kian menggeser kebiasaan bertransaksi dengan uang tunai. Pada saat ini, tak lagi harus mengeluarkan uang tunai untuk membayar apapun, karena sudah ada beberapa platform yang mendukung pembayaran secara elektronik.

Seperti dikutip dari CekAja, Jakarta, pada hari Senin (4/5/2019), data Bank Indonesia per 22 Februari 2019 menyebutkan terdapat sebanyak 36 penyelenggara uang elektronik yang memperoleh izin dari bank sentral baik yang dikeluarkan oleh swasta ataupun perusahaan milik pemerintah.

Dari ke-36 penyelenggara uang elektronik tersebut, setidaknya ada sekitar tiga pemain besar sistem pembayaran digital yang selama ini digunakan oleh masyarakat antara lain yakni T-Cash keluaran PT Telekomunikasi Indonesia, Gopay keluaran PT Dompet Anak Bangsa, dan juga OVO yang diterbitkan PT Visionet Internasional grupnya Lippo.

Seperti dikutip dari okezone com ternyata sudah sekitar 10 tahun beroperasi, layanan T-Cash per tanggal 22 Februari 2019 berubah wujud menjadi LinkAja. Layanan dompet digital milik BUMN Telkomsel ini juga rencananya akan menggabungkan uang elektronik dari beberapa bank plat merah antara lain e-cash dari Bank Mandiri, Unikqu dari Bank BNI, Tbank dari Bank BRI dan juga T-cash serta juga T-Money dari Telkom Group. Nantinya, LinkAja akan berada di bawah naungan sebuah perusahaan financial technology yakni PT Fintek Karya Nusantara (Finarya).

Kehadiran Finarya sendiri telah digodok sejak tahun lalu untuk membangkitkan kembali produk uang elektronik milik BUMN yang selama ini juga bisa dikatakan masih kurang diminati masyarakat akibat penetrasi masif dari kehadiran Gopay dan juga OVO.

Dari pembentukan perusahaan atas nama Finarya tersebut, Telkomsel mendominasi saham paling besar yaitu sekitar 25 persen. Sisanya yaitu BRI sekitar 20 persen, BNI 20 persen, lalu Bank Mandiri 20 persen, kemudian BTN 7 persen, Pertamina 7 persen, dan juga Jiwasraya 1 persen.

Produk-produk e-money yang sebelumnya dikeluarkan perusahaan BUMN di atas sengaja digabungkan untuk membetot para pelanggan menggunakan produk e-money keluaran pemerintah. Sebagai gambaran saja, T-Cash saja sudah memiliki sebanyak 30 juta pelanggan dari total pelanggan Telkomsel yang mencapai sekitar 200 juta. Selain itu juga rata-rata bank BUMN memiliki nasabah hingga sebanyak 10 juta orang. Dengan demikian LinkAja juga bisa menjadi platform yang menyerap pasar para pelanggan produk-produk dompet digital milik BUMN tersebut.

Tampaknya, kehadiran LinkAja akan menghantui dua pemain besar yaitu Gopay dan OVO yang selama ini sudah memanjakan masyarakat sebagai alat transaksi. Layanan LinkAja sejauh ini juga baru menawarkan dua fasilitas basic service dengan saldo maksimal sekitar Rp2 juta dan full service dengan saldo maksimalnya Rp10 juta.

Para pelanggan bisa menikmati berbagai layanan yang disediakan antara lain cash in, belanja online, bayar dan beli di ponsel, tap payment, kemudian kirim uang hingga cash out. Cara menggunakannya pun hampir sama dengan para pemain lainnya. Anda hanya cukup install, registrasi, isi saldo dan tinggal lakukan transaksi dengan mudah. Selain itu juga anda juga bisa nikmati banyak promo yang ditawarkan. 

Maka Dari itu mengapa kini perang marak terjadi, seperti halnya pihak BUMN yang tarik-tarikan dengan pihak Swasta untuk penjemput pelanggan.