Tanaman Holtikultura Jadi Sumber Penghasilan Petani Kerinci

0
5
Ilustrasi via Sorot Jambi com

KabarUang.com, Kerinci – Perhatian yang cukup besar dari Kementrian Pertanian (Kementan) terhadap tanaman holtikultura menjadikan kawasan di Kabupaten Kerinci, Jambi sebagai sentra produksi yang semakin maju.
Pada tahun 2019 Kemnetan mengalokasikan anggaran untuk pengembangan kawasan sayuran dan buah-buahan ebesar Rp 5,3 miliar yang dana ini digunakan untuk dimanfaatkan secara tepat sasaran sehingga berdampak pada peningkatan produksi serta kesejahteraan petani.
Program yang digalakkan Kementan itu membuahkan hasil yang positif sehingga menjadikan Kabupaten Kerinci sebagai sentra produksi sayuran yang berkembang semakin maju. Hal ini dibuktikan dengan penghasilan petani yang fantasis. Salah satu petani bawang merah bernama Haji Hermawis dari Kyu Aro mengungkapkan bahwa dirinya mendapat hasil yang fantastis dari budidaya bawang merah.
“Saya tanam bawang merah varietas Baki Adro. Ini varietas lokal, biaya produksi sekitar Rp 40-50 juta per hektare, hasilnya bisa mencapai 20 ton per hektare. Harga sekarang Rp 10.000 per kg. Jadi ya bersyukur ini rezeki, sudah kelihatan untungnya,”ujar Hermawis yang dilansir dari sindonews.com pada Sabtu (9/3).
Selain Hermawis, ada juga petani acabai bernama Romi yang mengatakan hal yang sama. Dia menanam cabai varietas lokal jenis loker alias Lombok Kerinci yang menghabiskan biaya produksi Rp 60-70 juta per hektare.
“Tanamannya tinggi, hasil panen mencapai 32-40 ton er hektare. Harga jula kini Rp 10.000 per kg. Artinya sangat untung,”papar Romi.
Petani lainnya, Afrizal seorang petani kentang yang menanam kentang varietas granola mengatakan bahwa dirinya menggunakan benih dari hasil panen sendiri sekitar Rp 40 juta per hektare.
“Hasil  produksi dari benih sendiri 15 ton per hektare. Kini harga kentang sedang turun dan bila harga normal minimal bisa Rp 7.000 per kg,”jelas Afrizal.
Reno Efendi sesama petani kentang juga mengatakan lahannya seluas 6 hektare. Biaya produksi yang dibuthkan sekitar Rp 60 juta per hektare, dengan hasil panen 17 hingga 20 ton per hektare dengan harga Rp 7.000 per kg.
“Kami menggunakan pupuk dan pestisida sangat rendah karena tanahnya subuh. Di sini air tersedia sepanjang waktu sehingga bisa tanam terus menerus,”ujar Reno.
Kepala Dinas Tnaman Pangan dan Hortikultura Kbupaten Kerinci Radium Halis mengataka bahwa wilayah Kayu Aro merupakan sentra sayuran. Diantaranya ialah kentang, cabai, bawang merah, kubis, kol, dan lainnya.
“Potensi lahan di sini sangat luas dan subur. Kami dorong terus petani meningkatkan produksi, diberi pelatihan dan pendampingan,”ujarnya.
Produk yang dihasilkan dari Kabupaten Kerinci ini sudah merambah ke Sumatera Barat (Sumbar), Sumatera Selatan (Sumsel), Jambi, bahkan Jakarta.
Baca Juga  BCA Mencetak Laba Bersih Yang Besar Tahun Lalu Kini Naik 10,9% Jadi Rp25,9 Triliun

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here