Surveyor Investasikan Dana Rp58,85 Miliar Untuk Bangun Laboratorium Pelumas

0
Ilustrasi Laboratorium via asianagri com
KabarUang.com, Jakarta – PT Surveyor Indonesia (persero) siap membangun Laboratorium Uji Pelumas dalam mendukung program pemerintah mengenai pemberlakuan SNI Pelumas Wajib. Laboratorium dengan luas area seluas 1.530 meter persegi ini terdiri dari sebanyak 25 peralatan uji fisika-kimia dan juga terdapat 2 line Engine Dynamometer dengan kapasitas 250 Horse Power (HP) memiliki kecepatan operasional yang bisa dilakukan 24 jam, akurasi tinggi, dan juga sudah kalibrasi pabrik. 
Adapun nilai investasi sebesar Rp58,85 miliar. Menteri Perindustrian yakni Airlangga Hartarto mengatakan, pembangunan laboratorium uji PT Surveyor Indonesia merupakan salah satu upaya mendukung pemenuhan kebutuhan infrastruktur guna penerapan Standar Nasional Indonesia atau SNI wajib untuk pelumas. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) juga telah menerbitkan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 25/2018 tentang Pemberlakuan SNI Pelumas secara Wajib.

“Untuk itu, kami berharap dengan dibangunnya Lab Uji Pelumas PT Surveyor Indonesia, maka kepentingan pengujian produk pelumas dalam negeri bisa terpenuhi dan industri pelumas dalam negeri akan semakin berkembang,” ujarnya pada peresmian laboratorium uji pelumas PT Surveyor Indonesia (Persero) di Sentul, Bogor, Jawa Barat, kemarin seperti dikutip dari okezone com

Airlangga juga telah mengatakan, permenperin tersebut juga sudah diterapkan untuk meningkatkan daya saing dan juga untuk utilisasi industri pelumas dalam negeri sehingga bisa memenuhi peningkatan kebutuhan pelumas khususnya bagi industri otomotif nasional.

Baca Juga  Pemerintah Serap Untung Sebanyak Rp8,03 Triliun dari Lelang

“Regulasi ini juga dalam melindungi konsumen terhadap dampak negatif potensi beredarnya produk pelumas yang bermutu rendah serta dalam mewujudkan persaingan usaha sehat antara pelaku usaha industri pelumas,” ungkapnya seperti dikutip dari okezone com

Berdasarkan catatan Kemenperin, seiring dengan meningkatnya pertumbuhan populasi dan juga meningkatnya produksi kendaraan bermotor, kebutuhan pelumas dalam negeri dari tahun ke tahun semakin bertambah. Pada tahun 2018 total produksi kendaraan bermotor roda empat telah menembus angka lebih dari sebanyak 1,3 juta unit, sedangkan produksi kendaraan bermotor roda dua sudah mencapai sebanyak 7 juta unit. Sektor yang juga paling banyak menggunakan pelumas, antara lain  yakni industri minyak dan gas bumi, pertambangan, serta energi pembangkitan.

Berdasarkan data BPS, nilai impor pelumas untuk 5 pos tarif yang diberlakukan SNI wajib pada tahun 2018 mencapai sekitar USD281 juta atau juga meningkat sekitar 0,9% dibandingkan nilai impor tahun 2017 mencapai USD252,7 juta. 

“Kapasitas industri pelumas saat ini sampai 2 juta liter. Utilisasinya masih sedikit sekitar 50%. Untuk itu, utilisasi industri pelumas dalam negeri perlu dipacu sehingga ketergantungan terhadap produk impor terus berkurang,” ungkapnya seperti dikutip dari okezone com
Airlangga juga menuturkan, di era globalisasi banyak negara di dunia memanfaatkan Standard, Technical Regulation, Conformity Assessment Procedure (STRA- CAP) sebagai salah satu instrumen untuk mengamankan industri dalam negerinya dari serangan produk-produk impor yang tidak berkualitas.

Baca Juga  Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Kini Tengah Dilakukan Pengeboran Tunnel Dan Rencananya Akan Rampung 2020

Di Indonesia, instrumen ini juga pada umumnya dilakukan melalui pemberlakuan SNI secara wajib. Dalam implementasi pemberlakuan SNI wajib tersebut, diperlukan ketersediaan infrastruktur penilai kesesuaian, seperti Lembaga Sertifikasi Produk atau juga yang biasa disebut dengan LSPro dan  juga Laboratorium Pengujian. 

“Hanya mekanisme standardisasi dan regulasi teknis yang masih diperbolehkan, semata-mata digunakan dalam melindungi kesehatan, keselamatan, dan keamanan manusia dan lingkungan,” tuturnya seperti dikutip dari okezone com
Direktur Utama Surveyor Indonesia yakni Dian M Noer mengatakan, laboratorium uji pelumas ini dibangun untuk mendukung kebijakan pemerintah dalam penerapan Standard, Technical Regulation, Conformity Asses sment Procedure atau STRA – CAP sebagai instrumen mengamankan industri dalam negeri dari serangan produk-produk impor yang tidak berkualitas.

“Surveyor Indonesia mendirikan laboratorium uji yang turut mendorong industri dalam negeri untuk menjaga dan meningkatkan kualitas produk yang disyaratkan oleh standar nasional, internasional, dan peraturan perundang-undangan,” ujarnya seperti dikutip dari okezone com

Baca Juga  Pagi Ini Rupiah Dinyatakan Melemah Menuju Angka Rp14.157/USD
Laboratorium ini juga dapat menguji produk pelumas untuk karakteristik fisika-kimia dan bahkan parameter unjuk kerja pelumas sesuai dengan SNI Pelumas yang jumlahnya sudah mencapai 21 SNI Pelumas. Adapun sekitar 7 SNI Pelumas sudah diberlakukan secara wajib melalui Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 25/ 2018. Selain itu, laboratorium ini juga dapat melakukan pengujian terhadap pelumas dalam penggunaan atau Used Oil Analysis, guna membantu industri untuk mengetahui umur pemakaian pelumas dan juga bisa mengetahui kondisi bagian-bagian mesin yang berputar berupa Oil Condition Monitoring (OCM).

OCM bisa di lakukan pada permesinan untuk sektor pertambangan, transportasi seperti darat, laut, udara, pembangkitan dan juga industri manufaktur. Dian juga menambahkan, sampai pada saat ini perusahaan produsen pelumas yang menggunakan jasa Laboratorium Surveyor Indonesia, antara lain yakni seperti halnya Exxon mobile, lalu Idemitsu, kemudian Shell, ada juga Nippon, lalu Perkasa Teknologi Indolube, Mobil Korea Lube Oil, dan juga Petromitra Pacifik Internusa.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here