Longgarkan RIM, Penyaluran Kredit Diharapkan Bisa Tumbuh 12%

0
Ilustrasi Kartu Kredit via sepulsa com
KabarUang.com, Jakarta –  Bank Indonesia (BI) sangat optimistis bahwa pada tahun ini penyaluran kredit perbankan akan lebih agresif lagi sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. BI pun sangat berharap kredit perbankan bisa tumbuh sekitar 12% seiring dengan pelonggaran kebijakan makroprudensial melalui peningkatan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) menjadi 84%-94% dari 80%-92%.

Deputi Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial BI yakni Ita Rulina mengatakan, dengan RIM yang dinaikkan ini, bank sentral pastinya ingin segera memastikan rentang pertumbuhan kredit antara 10%-12% atau mungkin bisa ke atas. Dengan demikian, BI bisa melonggarkan batasan kehati-hatian dari penyaluran kredit bank. Adapun kenaikan RIM itu akan berlaku 1 Juli 2019.

Baca Juga  Tata Cara Penerapan Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda Dipermudah Kementrian Keuangan

”Kita ingin jaga harapannya sejak dari awal tahun. Jadi dengan direlaksasi dari sekarang, bank bisa dari awal tahun untuk ekspansif,” ujar Ita di Yogyakarta, kemarin seperti dikutip dari okezone com

Dia juga menuturkan, BI akan menetapkan kenaikan batasan RIM menjadi sekitar 84-94% guna mendukung pembiayaan perbankan bagi sektor dunia usaha.

”Karena sebenarnya tidak mudah juga bank langsung cairkan kredit. Maka dengan dilonggarkannya RIM, kita ingin perkuat sinyal ke perbankan untuk dorong kredit,” ujar Ita seperti dikutip dari okezone com

Sebelumnya RIM ada di rentang sekitar 80%-92%. Dengan batas atas yakni 92%, ada sebanyak 51 bank yang melebihi ketentuan RIM atau rentang kehati-hatian dalam menyalurkan kredit. Karena itu, RIM kini ditingkatkan agar bank lebih leluasa menyalurkan intermediasi.

Baca Juga  Ini Dia! Tantangan Indonesia untuk Jadi Negara Maju

Sedangkan yang di bawah RIM sekitar 80% itu ada sebanyak 21 bank. Dengan demikian, kata dia, bank juga harus hati-hati dalam mengelola likuiditasnya. Menurut Ita juga kondisi likuiditas perbankan ini bisa dinyatakan cukup memadai akan tetapi masih banyak perbankan terlalu hati-hati dalam mengucurkan kredit sehingga ekses likuiditas meningkat.

Likuiditas perbankan sedikit mengalami peningkatan, tercermin dari jumlah rasio AL/DPK sebesar 20,25% pada bulan Januari tahun 2019 lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya sebesar 19,31%,” ujarnya. Menurut dia, dengan meningkatnya likuiditas tersebut seiring aliran kembali uang kartal pascalibur akhir tahun dan juga pada funding surplus di awal tahun sesuai pada pola musiman.

Baca Juga  Sekarang Harga Emas Sedang Turun

Di sisi lain, pada saat ini ada potensi perebutan dana pihak ketiga (DPK) antara bank dan juga pemerintah. Terlebih pemerintah pada saat ini sedang gencar menerbitkan surat utang sehingga sangat bisa memengaruhi pertumbuhan DPK perbankan.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here