Industri Hasil Tembakau Hidupkan Sebanyak 5,98 Juta Tenaga Kerja

0
17
Ilustrasi Katada com

KabarUang.com, Jakarta – Salah satu sektor manufaktur nasional yang strategis dan memiliki keterkaitan yang luas adalah Industri Hasil Tembakau. Melalui indusri ini juga sebanyak 5,98 juta pekerjanya sehingga berkontribusi dalam menghidupkan aspek ekonomi, sosial, dan pembangunan bangsa Indonesia.
“IHT merupakan bagian sejarah bangsa dan budaya Indonesia, khususnya rokok kretek. Produk berbasis tembakau dan cengkih menjadi warisan inovasi nenek moyang dan sudah mengakar secara turun temurun,”ujar Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto di Jakarta, pada Jumat (22/3/2019).
Menteri Perindustrian juga mengatakan bahwa industri Hasil Tembakau berkontribusi dalam meningkatkan nilai tambah dari bahan baku lokasl, seperti tembakau dan juga cengkih. Selain itu, industri ini dikenal sebagai sektor padat karya karena berorientasi ekspor sehingga mampu membangkitkan ekonomi.
Tercatat dalam Kementrian Perindustrian jumlah tenaga kerja yang diserap oleh sektor industri hasil tembakau sebanyak 5,98 juta orang. Sebanyak 4,28 juta pekerja berada di sektor manufaktur dan distribusi, sisanya sebanyak 1,7 juta pekerja bekerja di sektor perkebunan.
Pada tahun 2018 lalu, nilai ekspor rokok dan cerutu mengalami kenaikan sebesar 2,98% atau setara dengan USD931,6 juta,  jika dibandingkan dengan tahun 2017 yang hanya USD904,7 juta.
“Industri rokok juga dapat dikatakan sebagai faktor kearifan lokal yang memiliki daya saing global,”tambahnya.
IHT ini juga dikenal sebagai industri penyumbang penerimaan negara yang cukup besar melalui cukai. Pada sepanjang 2018 penerimaan cukai rorok sendiri tembus hingga Rp 153 triliun, hasil ini lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang hanya sebesar Rp 147 triliun. Namun, penerimaan cukai rokok tahun lalu pun sudah berkontribusi sebesar 95,8% terhadap cukai nasional.
Tapi perlu diperhatikan pula, bahwa produk IHT merupakan barang kena cukai. Maka dari itu peraturan terkait rokok semakin diperketat, baik di dalam maupun luar negeri. Hal ini dikarenakan perlindungan konsumen dan kesehatan menjadi tantangan tersendiri bagi industri rokok.
Beberapa peraturan tentang rokok yakni Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 tentang pengamanan Bahan yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau bagi kesehatan.s
“Tentunya, melalui industri ini, kami tidak menganjurkan agar masyarakat banyak mengkonsumsi rokok, tetai kami mengajak bahwa anak-anak muda dijauhkan dari rokok, terutama anak sekolah. Selain itu, demi mendorong untuk menjaga kesehatan melalui R&D industrinya,”tutur Airlangga kepada sindonews.
Baca Juga  PUPR Dukung Pembangunan Infrastruktur "Bali Baru"

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here