Harga Minyak Turun dari Level Tertinggi di 2019 karena Lonjakan produksi

0
4
Ilustrasi Minyak Dunia via finroll com
KabarUang.com , Jakarta –  Harga minyak mentah berjangka AS turun dari puncak tertinggi di 2019 pada penutupan perdagangan Jumat (Sabtu pagi waktu Jakarta). Pendorong penurunan harga minyak ini karena kekhawatiran pelemahan ekonomi global dan derasnya produksi AS.
Mengutip Reuters, Sabtu (16/3/2019), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berakhir turun 9 sen menjadi USD 58,52 per barel, setelah mencapai level tertinggi mereka tahun ini di USD 58,95 per barel.
Sedangkan untuk harga minyak mentah berjangka Brent ditutup turun 7 sen pada USD 67,16 per barel, di bawah puncak 2019 pada level USD 68,14 per barel yang dicapai pada Kamis lalu.
Harga minyak mentah AS mengakhiri minggu ini dengan 4,1 persen lebih tinggi, dan Brent naik 1,9 persen.
“Pasar sedikit mengambil jeda untuk mencerna laporan yang berbeda tentang penawaran dan permintaan di masa depan,” kata Phil Flynn, analis Price Futures group Chicago.
Permintaan di sini terkait pertumbuhan ekonomi global yang masih penuh tantangan dan jumlah produksi AS yang terus meninggkat.
“”Pertemuan OPEC + bisa memberi kita sedikit arahan,” tambah dia.
Organisasi negara pengekspor minyak dan sekutunya termasuk Rusia atau aliansi yang dikenal dengan OPEC +, pada tahun lalu setuju untuk memangkas produksi, sebagian sebagai tanggapan terhadap peningkatan produksi AS.
Para menteri OPEC + akan bertemu pada 17-18 April untuk kembali memutuskan kebijakan produksi.
“Jika OPEC + memutuskan untuk memperpanjang pemotongan produksi kami berharap bahwa harga minyak akan terus menarik setidaknya sampai kuartal III,” tulis U.S. investment Bank Jefferies dalam catatannya.
Badan Energi Internasional mengatakan bahwa pasar minyak surplus moderat pada kuartal pertama tahun 2019.
Menurut mereka, pengendalian pasokan oleh OPEC dapat mencegah kenaikan harga jika sewaktu-waktu terjadi gangguan.
Perusahaan-perusahaan energi AS pada minggu ini mengurangi jumlah rig minyak yang beroperasi selama empat minggu berturut-turut, dengan pengeboran melambat ke level terendah dalam hampir setahun, mendorong pemerintah untuk memotong perkiraan pertumbuhan produksi minyak mentah.
Perusahaan pengebor minyak memotong satu anjungan minyak dalam seminggu hingga 15 Maret, sehingga jumlah totalnya turun menjadi 833 sumur, terendah sejak April 2018.
Baca Juga  Ternyata MRT Tidak Akan Hanya Ada di Jakarta Saja

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here