Di Eropa Sawit RI Didiskriminasi, Ini Dia Fakta-Faktanya

0
Ilustrasi Sawit via astra-agro co id
KabarUang.com, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian yakni Darmin Nasution akan mengambil langkah tegas untuk segera merespons proses yang sedang berlangsung di kawasan Eropa.

Delegated Act juga menyebutkan bahwa produk minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) tidak layak untuk digunakan karena dianggap berisiko tinggi terhadap perusakan lingkungan telah disetujui Parlemen Uni Eropa, maka akan sangat berdampak negatif bukan hanya untuk Indonesia, tapi juga negara penghasil kelapa sawit lainnya.

Berikut beberapa fakta yang telah dirangkum Okezone mengenai RI menggugat pihak eropa terkait sawit, pada hari Minggu (24/3/2019) seperti dikutip dari okezone com :

1. Minyak Sawit Ditolak Pasar Eropa

Para pembeli di Eropa telah mengurangi pesanan secara berkala besar untuk minyak kelapa sawit jangka panjang, karena tekanan terhadap minyak nabati yang terkait dengan deforestasi.

Baca Juga  Perusahaan Arab Saudi Borong Produk Buah dan Sayuran Indonesia Senilai Rp 77 M

“Negara-negara Eropa dapat memberlakukan lebih banyak pembatasan pada minyak sawit,” kata seorang pedagang yang berbasis di Kuala Lumpur yang memasok minyak sawit ke Eropa seperti dikutip dari okezone com

“Importir tidak mau mengambil risiko.”ucapnya lagi seperti dikutip dari okezone com

Negara-negara Eropa juga malah membeli lebih banyak kedelai dari biasanya tahun lalu di tengah-tengah kebuntuan perdagangan Amerika Serikat dan juga China, dan peningkatan produksi minyak kedelai lokal dan dapat mengurangi kebutuhan impor minyak nabati secara keseluruhan.

Di Uni Eropa, importir minyak kelapa sawit terbesar kedua di dunia, pembeli menghindari minyak karena ketakutan pada kekhawatiran akan kerusakan lingkungan akibat budidaya kelapa sawit, sementara untuk perang dagang Washington-Beijing telah menyebabkan ketidakpastian atas adanya potensi permintaan di pasar terbesar ketiga di China.

Baca Juga  Amar Bank Bakal Kolaborasi Layanan Fintech dengan BPR

2. Diskriminasi Minyak Sawit

Proses pembahasan Delegated Act di Uni Eropa sangat diskriminatif terhadap komoditas CPO. Hal ini juga dapat dibuktikan dengan dikategorikannya minyak kacang kedelai ke dalam komoditas berisiko rendah terhadap kerusakan hutan meski belum dilakukan penelitian yang komprehensif.

Uni Eropa mengklasifikasikan minyak sawit sebagai risiko tinggi kerusakan hutan. Selanjutnya, Mantan gubernur Bank Indonesia (BI) juga telah mengatakan, bahwa pada sebelumnya pembahasan mengenai Delegated Act baru akan dilakukan Parlemen Uni Eropa dalam kurun waktu dua bulan ke depan. Akan tetapi, ada kemungkinan pembahasannya dipercepat.

3. Sawit Turunkan Kemiskinan

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution juga mengatakan, “produk sawit tidak seburuk yang difikirkan oleh parlemen Uni Eropa”. Karena dari berdasarkan kajian apapun, produk minyak sawit pasti lebih baik dibandingkan produk minyak nabati lainnya dan juga minyak sawit banyak manfaatnya bagi Indonesia.

Baca Juga  Perekonomian Jakarta Tumbuh 6,3-6,7 Persen di Kuartal III

Tak hanya menghasilkan devisa tapi juga menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat Indonesia. Menurut Darmin juga bisa diperkirakan ada sekitar 7,5 juta orang yang bekerja di sektor minyak sawit. Sedangkan sekitar 2,6 juta pekerja merupakan petani dan juga perkebunan rakyat.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here