AS Akhiri Status Keistimewaan Dagang dengan India dan Turki

Advertisement

AS Akhiri Status Keistimewaan Dagang dengan India dan Turki

Kamis, 07 Maret 2019
ilustrasi via goobjoog com


KabarUang.com , Jakarta - Amerika Serikat (AS) akan akhiri status keistimewaan atau preferensi perdagangan dengan India dan Turki. Keduanya merupakan negara berkembang penerima manfaat perdagangan dari AS.

“Amerika ingin mengakhiri status India dan Turki sebagai negara penerima manfaat perdagangan di bawah Generaized System Preference (GSP) karena keduanya tidak memenuhi kualifikasi untuk status tersebut,” kata Juru Bicara Perdagangan AS, Senin (4/3/2019) dikutip Aljazeera.


India gagal memenuhi syarat sebagai penerima manfaat karena gagal memberikan jaminan ketersediaan pasar bagi AS, sedangkan Turki dianggap cukup secara ekonomi sebagai sebuah negara berkembang.


Beberapa produk masih dapat masuk ke AS tanpa pajak jika negara memenuhi kriteria termasuk memberikan akses pasar yang adil dan masuk akal.


Program preferensi perdagangan tersebut mengijinkan ekspor India senilai 5,6 miliar dolar AS masuk ke AS tanpa pajak. Namun, kantor perdagangan AS menyebut bahwa India melakukan hambatan serius yang menyebabkan efek negatif bagi perdagangan AS.



Channel News Asia menyebutkan bahwa Trump, yang berjanji akan mengurangi defisit Amerika telah berulang kali memperingatkan India untuk mengurangi pajak ekspor Amerika yang masuk ke India. AS mengalami kerugian sebesar 27,3 miliar dolar AS dengan India pada 2017.


India juga merupakan negara penerima manfaat terbesar dari preferensi dagang. Berakhirnya preferensi dagang ini bakal menjadi tantangan berat bagi India.


“Saya akan melanjutkan status tersebut jika Pemerintah India menyediakan pasar yang adil dan masuk akal sesuai syarat penerima program GSP,” kata Trump dikutip Channel News Asia.


Melansir Times of India, perubahan tersebut berlaku setelah 60 hari diumumkan secara resmi oleh pihak pemerintahan AS Senin lalu. As dan India akan segera menandatangani persetujuan.


Di sisi lain, Turki yang menerima keuntungan dari program GSP sejak 1975 telah menunjukkan peningkatan level ekonomi yang membuatnya telah “lulus” dari program tersebut.


Amerika mengimpor produk dari Turki senilai 1,66 miliar dolar AS [ada 2017 melalui program GSP. Nilai tersebut setara dengan 17,7 persen total impor dari Turki.


Upaya tersebut pengurangan defisit oleh trump tersebut juga berimbas pada Cina. Trump menetapkan tenggat waktu 90 hari untuk menaikkan pajak terhadap produkmCina yang masuk ke AS yang akan berakhir Jumat mendatang.


Namun, melalui sebuah ultimatum Trump menyampaikan untuk mengulur waktu tersebut karena ada kemajuan mengenai kerjasama melalui perbincangan yang dilakukan Cina-AS beberapa kali.


Sebuah perjanjian menyebutkan, Cina akan meringankan beban perusahaan-perusahaan Amerika di Cina, dan membeli hasil pertanian Amerika dalam jumlah besar jika Amerika meringankan tarif pajak kepada Cina. Namun, hingga saat ini, diskusi tersebut belum menemukan titik temu.