Terjadi Penurunan Produksi Pada Freeport

0
Ilustrasi Produksi Freeport via bulletinnusa blogspot com
KabarUang.com, Jakarta – PT Smelting sudah memastikan bahwa produksi katoda tembaga tetap akan stabil meskipun kenyataannya PT Freeport Indonesia sebagai pemasok utama konsentrat tembaga sedang mengalami penurunan produksi pada tahun ini. Penurunan produksi disebabkan oleh masa transisi perpindahan operasional tambang terbuka atau open pit yang beralih ke tambang bawah tanah. 
“Penurunan produksi Freeport kami pastikan tidak mengganggu kinerja Smelting. Hal itu karena Freeport sudah berkomitmen memasok seluruh produksinya ke Smelting dengan total 1,1 juta ton,” ujar Manager General Affairs PTS Sapto Hadi Prayetno saat Pemaparan Kinerja PT Smelting 2019 di Jakarta kemarin. Menurut dia, realisasi produksi katoda tembaga Smelting tahun ini tetap terjaga seperti dikutip dari okezone com
Pihaknya juga telah merincikan, dengan mengolah sekitar 1,1 juta ton konsentrat tembaga, maka akan ada penghasilan sekitar 291.000 ton produk utama katoda tembaga dengan tingkat kemurnian 99,99%. Selain itu juga, Sapto menuturkan, bahwa PTS diproyeksikan mampu menghasilkan produksi samping hingga sebanyak 1,04 juta ton asam sulfat atau sulphuric acid  dan sebanyak 805.000 ton terak tembaga atau copper slag. 
“Dengan proyeksi produksi seperti itu, PTS masih tetap bisa menjaga komitmen untuk memenuhi pasokan katoda tembaga terbaik ke pelanggannya, baik di dalam negeri maupun luar negeri,” tuturnya seperti dikutip dari okezone com 
PTS juga tetap harus mampu menjaga komitmen untuk mendukung program ketahanan pangan pemerintah melalui pemasokan asam sulfat ke pabrik pupuk Petro Kimia Gresik. PTS juga telah siap memenuhi komitmen kepada industri baik itu semen, atau beton, dan juga galangan kapal yang memerlukan pasokan slag tembaga. 
“PTS juga akan tetap mampu menjaga kontribusinya dalam menjaga neraca perdagangan khususnya di Jatim. Seperti diketahui, produk PT Smelting selama ini menjadi kontributor terbesar kedua komoditas ekspor di Jatim,” kata dia seperti dikutip dari okezone com
Bambang Gatot Ariyono selaku Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral atau ESDM  sudah mengatakan bahwa Freeport Indonesia telah dipastikan akan mengalami penurunan produksi konsentrat tembaga besar-besaran pada tahun ini. Adapun turunan produksi disebabkan karena masa transisi perpindahan operasional tambang terbuka yang beralih. 
“Penurunan produksi karena ada transisi dari tambang terbuka ke bawah tanah. Penurunan hanya sementara, nanti setelah itu akan stabil lagi,” kata dia seperti dikutip dari okezone com
Bambang juga menjelaskan lagi perihal produksi Freeport baru akan stabil lagi pada tahun 2021, sedangkan untuk puncak produksi akan terjadi pada tahun 2025. Tahun ini produksi konsentrat tembaga Freeport diprediksi sangat turun drastis dibandingkan dengan tahun lalu. Tahun ini produksi Freeport diprediksi hanya mencapai 1,2 juta ton, jauh dibandingkan hasil produksi sepanjang tahun 2018 yang mencapai 2,1 juta ton.
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Baca Juga  Masyarakat Mengetahui Kemenkeu Hanya soal Utang, Sri Mulyani Sakit Hati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here