Terjadi Lagi Penipuan Dikasus Fintech Ilegal

0
Ilustrasi Ketua Satgas via gatra com
 KabarUang.com, Jakarta – Penagihan yang telah dilakukan oleh layanan pinjaman online secara digital atau yang sering disebut dengan fintech peer to peer landing yang telah diketahui juga sudah mulai banyak memakan korban. Contohnya seorang sopir taksi berinisial Z ditemukan tewas gantung diri di kamar indekos di kawasan Jakarta pada hari Senin, tanggal 11 Februari 2019.

Dengan menanggapi hal itu, Tongam L. Tobing  selaku Ketua Satuan Tugas atau disebut dengan Satgas menghimbau kepada seluruh masyarakat agar waspada terhadap investasi Otoritas Jasa Keuangan atau yang disingkat OJK, ia juga mengaku akan terus mengusut tuntas kasus tersebut bersama dengan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia atau yang disingkat AFPI. Namun dapat dipastikannya, bahwa kasus tersebut disebabkan oleh fintech ilegal yang melakukan penagihan tidak sesuai dengan ketentuan asosiasi.
“Jadi kami menduga kegiatan-kegiatan fintech ilegal yang membuat tekanan yang sangat tinggi bagi saudara kita ini. Jadi kami prihatin dan sangat tidak mentolerir kegiatan-kegiatan penagihan yang telah mengakibatkan korban,” tegas dia di kantornya, Jakarta, Rabu 13 November 2019 seperti dikutip dari viva co id
Meski begitu Tongam menekankan sekali lagi bahwa kejadian tersebut seharusnya sudah menjadi cerminan bagi masyarakat untuk tidak mudah melakukan pinjaman terhadap fintech ilegal. Terutama untuk meminta pinjaman lagi untuk kegiatan-kegiatan yang tidak produktif atau hanya konsumtif belaka saja.
Karena menurut pendapatnya, keberadaan fintech ilegal itu sendiri juga pada dasarnya tidak memiliki tujuan untuk memberikan kebaikan atau hal positif bagi masyarakat. Akan tetapi lebih hanya ingin menjebak masyarakat untuk memperoleh keuntungan maksimal sendiri tanpa memedulikan keberlanjutan bisnis maupun konsumen itu sendiri.
“Kami dorong masyarakat pinjam untuk kepentingan produktif. Karena fintech yang dipinjam ini ilegal biasanya untuk biaya konsumtif yang biasanya pengeluaran rutin dari penghasilan tetap. Tapi gap penghasilan degan kebutuhan ditutup dengan pinjaman online yang berbunga tinggi,” tambahnya seperti dikutip dari viva co id
Tongam juga mengaku sangat prihatin atas kejadian tersebut. Dirinya juga menjelaskan dan menekankan  sekali lagi bahwa tidak dalam posisi menjawab siapa yang harus bertanggung jawab atas munculnya kejadian meninggalnya nasabah pinjaman online berbasis digital tersebut. 
“Jadi OJK dan Satgas Investasi tidak dalam posisi menjawab siapa yang bertanggung jawab di sini, tapi ini menjadi pembelajaran bagi kita bersama bahwa fintech-fintech ilegal ini tidak akan membantu masyarakat tetapi justru menjebak masyarakat,” ungkapnya seperti dikutip dari viva co id

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Baca Juga  Peringatan dari Darmin Soal Neraca Perdagangan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here