RI Lawan Diskriminasi Standarisiasi Biofuel Eropa

0
Ilustrasi Mahendra Siregar via youtube com
KabarUang.com, Jakarta – Pemerintah Indonesia pada hari Kamis besok, yaitu pada tanggal 28 Februari 2019, bakal menjadi tuan rumah pertemuan tahunan dewan negara-negara penghasil minyak kelapa sawit atau Council of Palm Oil Producing Countries/CPOPC di Hotel Mulia, di kawasan Jakarta.

Dalam pertemuan itu, Pemerintah Indonesia akan mencoba mendorong negara-negara produsen minyak kelapa sawit untuk melawan diskriminasi Eropa, dalam membuat standarisasi bahan bakar minyak nabati atau dengan sebutan lain yaitu biofuel.

Direktur Eksekutif CPOPC, Mahendra Siregar juga menyatakan bahwa upaya standarisasi yang dilakukan Eropa, terhadap bahan bakar minyak nabati selama ini sangat diskriminatif terhadap minyak kelapa sawit. Pasalnya, kebijakan tersebut tidak berdasarkan kajian ilmiah yang diakui secara internasional dan terang-terangan.

Baca Juga  Jokowi Berjanji Akan Bantu Keluarga Yang Kurang Mampu
“Kita lihat di dalam draf itu betul-betul diskriminatif dan menyulitkan dan mengeluarkan sawit dari pemenuhan biofuel di Eropa, berdasarkan satu metodologi yang sama sekali tidak scientific dan diakui secara internasional,” katanya, saat ditemui usai rapat koordinasi CPOPC di Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Jakarta, Selasa 26 Februari 2019 seperti dikutip dari viva co id

Dia juga menekankan bahwa keputusan yang bakal diambil oleh otoritas negara-negara Eropa tersebut sangat politis. Karenanya, ia menekankan forum CPOPC itu nantinya bakal menentang kebijakan tersebut dengan menghasilkan pernyataan bersama atau dengan joint statement sebagai sikap tegas terhadap draf standarisasi biofuel itu.

Baca Juga  Jangkau Masyarakat Terpencil, BI Gandeng TNI AL Gelar Kas Keliling

“Semata-mata, keputusan politik Eropa yang tentu harus direspons dengan baik, karena risikonya tentu besar bagi negara-negara produsen sawit. Ada pernyataan bersama mengenai keseluruhan, termasuk untuk RED II (European Union’s Renewable Energy Directive II) dan delegated act-nya itu,” tegasnya seperti dikutip dari viva co id

Dia juga sangat optimistis, dengan adanya joint statement melalui pertemuan tersebut, suara penentangan Indonesia terhadap kebijakan Eropa itu akan bisa memiliki dampak, ketimbang melakukan kampanye perlawanan secara individu. Karena ditegaskannya, Malaysia, Indonesia, dan juga Kolombia yang merupakan anggota CPOPC menguasai sekitar 90 persen produksi sawit dunia.

Baca Juga  BNI Syariah Kembangkan Layanan di Era 4.0 Digital Banking

“Kita bisa lihat, posisi-posisi yang ada tidak bisa menerima perlakuan seperti itu dan kita akan mengupayakan dan ambil langkah yang diperlukan untuk menetralisir diperlakukannya kebijakan yang sama sekali tidak berdasar,” ungkapnya seperti dikutip dari viva co id

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here