Laba BNI Syariah Tumbuh Sebanyak 35,67%

0
Ilustrasi via Twitter com

KabarUang.com, Jakarta – Sepanjang 2018 BNI Syariah mencatat laba bersih yang diperolehnya sebanyak Rp 416,08 miliar, hasil ini naik sebesar 35,67% dibandingkan 2017. Kenaikan itu didorong oleh ekspansi pembiayaan, rasio dana murah yang optimal, serta peningkatan pendapatan berbasis komisi (fee based income).
Abdullah Firman Wibowo selaku Direktur BNI Syariah menyatakan bahwa fee based income yang diraih BNI Syariah pada akhir tahun mencapai Rp 104,4 miliar. Lebih jelasnya angka tersbeut didapat dari E-channel (e-banking) sebesar Rp 60,7 miliar, cash management Rp 5,9 miliar, remitasi sebesar Rp 4,9 miliar, E-channel (Hasanah Card) Rp 7,5 miliar serta pendampingan Service Level Agreement (SLA) mencapai Rp 22,4 miliar.
“Sementara komposisi rasio dana murah (Current Account Saving Account/CASA) terhadap total Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai 55,82%. Komposisi dana murah ini juga meningkat jika dibanding tahun sebelumnya 51,60%. Di tengah gejolak global, perang dagang dan melambatnya pertumbuhan ekonomi global, BNI Syariah bisa tumbuh di atas rata-rata industri,”ujar Firman pada Kamis (14/2) di Jakarta.
Jika dilihat dari sisi penyalurannya, BNI Syariah telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 28,30 triliun yang naik sebesar 19,93%. Komposisi pembiayaan pada tahun 2018 dihasilkan oleh segmen Komsumer sebesar Rp 13,92 triliun, lalu segmen Komersial Rp 7 triliun, segmen kecil dan segmen menengah sebesar Rp 5,97 triliun, segmen mikro Rp 1,08 triliun, serta Hasanah Card Rp 332,69 miliar.
Sementara itu, Non-Performing Finance (NPF) membukukan catatan 2,93% atau naik 2,89% pada tahun 2017. Direktur Bisnis SME dan Komersial Dhias Widhyati mengatakan bahwa kenaikan tersebut disebabkan oleh beberapa segmen industri yang mengalami penurunan seperti sektor usaha kecil menengah (UKM) serta konsumer.
“Kedua sektor itu NPF-nya relatif besar. Industri pengolahan juga mengalami penurunan dan sudah kami usahakan untuk diselamatkan. Namun, karena kondisinya belum bagus sehingga sektor itu agak sedikit turun,”ujarnya.
Namun, Dhias menyatakan bahwa NPF nya masih terjaga di angka 2,75%. Per Desember 2018 aset yang dimiliki BNI Syriah mencapai Rp 41,05 triliun atau tumbuh sebesar 17,88% jika dibandingkan dengan 2017 lalu. Apabila ditinjau dari sisi bisnis, khususnya penghimpunan dana, DPK perseroan tumbuh mencapai 20,82% atau setara dengan Rp 35,50 triliun dengan jumlah nasabah lebih dari 3 juta.
“Peingkatan nasabah kami di tahun lalu cukup baik yakni 21,64%,”tambahnya.
Volume penjualannya mencapai Rp 7,52 triliun yang dikontribusikan dari setoran dana haji yakni sebesar Rp 119,1 miliar, lalu transaksi valas Rp 2,6 triliun, dan lain-lain.
Direktur Bisnis SME dan Komersial itu mengatakan rasio keuangan lainnya return on equitiy (RoE) yang berada di 10,53%, lalu return on asset (RoA) sebesar 1,42%. Sedangkan raso beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) 85,37% dengan coverage rati 97,36% yang dilansir dari sindonews.com
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Baca Juga  Dukung Tol Trans Jawa, Pertamina Tambah SPBU Permanen Dan Sementara

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here