Hindari Jembatan Timbang, Truk di Pantura Keluar Masuk Tol Trans Jawa

0
Ilustrasi Truk Niaga Kembali ke Pantura Hindari Tol Tran Jawa via mediaindonesia.com

KabarUang.com, Jakarta – Jembatan Timbang dan Jalan Tol merupakan pemangkas terbesar uang saku pengemudi truk. Untuk perjalanan niaga, mereka lebih memilih untuk rute yang tidak berbayar yaitu jalur pantura.

Hal ini harusnya bisa diatasi oleh pengusaha yang telah memberikan anggaran tol kepada pengemudi untuk setiap perjalanan niaganya dengan menentukan target waktu tiba kepada pengemudi yang tentunya jauh lebih cepat menggunakan tol dibanding jalur pantura.

Yang kedua adalah memanfaatkan penggunan alat tracking GPS untuk mengetahui posisi dan rute yang dilalui oleh truknya.

Alternatif lain adalah adanya regulasi dari pemerintah yang membatasi truk dengan kapasitas tertentu harus menggunakan jalur Tol Trans Jawa.

Dengan beberapa alternatif tersebut, Tol Trans Jawa akan menjadi pilihan pengusaha atau pengemudi untuk akses pengiriman barang yang cepat dan lancar.

Baca Juga  BBM dan LPG Dijamin Aman Oleh Pertamina Pasca Tsunami Lampung

Karena yang terjadi saat ini pasca beroperasinya Tol Trans Jawa, pengemudi truk hanya sesekali menggunakan jalur tol. Jalur ini merupakan favorit para pengemudi karena biayanya lebih murah dibanding biaya yang harus mereka keluarkan jika masuk jembatan timbang terlebih lagi jika kondisi muatannya lebih (overload).

Jembatan timbang yang dihindari oleh para pengemudi truk ini adalah Jembatan Timbang yang ada di Subah (Batang) dan mereka lebih memilih masuk Tol Trans Jawa melalui pintu masuk Weleri, Kabupaten Kendal. Selanjutnya mereka akan keluar ke interchange Kota Pekalongan.

Rumadi (49) supir truk yang ditemui oleh detikFinance, Selasa (19/2), menyampaikan bahwa dengan kondisi muatan overload, dirinya akan menghemat Rp 40 ribu dengan masuk jalur tol Weleri (Kendal). Untuk masuk tol Weleri dan keluar tol di Pekalongan dia mengeluarkan biaya Rp 60 ribu.

Baca Juga  XL Axiata Catat Rugi Bersih Rp 3,29 Triliun di Tahun 2018, Ini Penyebabnya

“Kalau kita lewat Pantura akan terkena tilang di Jembatan Timbang Subah dan harus membayar Rp 100 ribu,” jelasnya.

Selain menghindari jembatan timbang, mereka memilih masuk jalur tol (Kendal) tersebut untuk menghindari jalanan dengan kondisi tanjakan tajam di Gringsing ataupun jalur beton (Jalur Selatan) di Gringsing.

Arif Munandar, Kepala Unit Pelaksana Penimbangan Kendaraan Bermotor (UPPKAB) Subah, mengungkapkan bahwa sejak dibukanya tol Weleri (Kendal) – tol Pekalongan, terjadi penurunan drastis mencapai 90 persen dari sisi jumlah kendaraan yang masuk jembatan timbang.

“Kebanyakan kendaraan niaga tersebut (muatan overload) akan menghindari jembatan timbang, dengan masuk tol melalui interchange Kendal dan keluar ke intercange Pekalongan,” ungkap Arif, seperti dikutip dari finance.detik.com, Rabu (20/2).

Baca Juga  Asuransi Saving Plan Terpaksa Ditunda Rp.802 miliar

Dari sebelumnya per hari tercatat sekitar 2000 kendaraan yang masuk jembatan timbang,  sejak akhir 2018 hanya tercatat 500 kendaraan per hari saja dan cenderung menurun menurut Arif.

“Kalau yang lewat sini (truk niaga) kebanyakan sudah ditilang di Jembatan Timbang Sarang Rembang, kami tidak bisa menilangnya,” lanjutnya.

Sebaiknya di Tol juga ditempatkan jembatan timbang portable untuk tetap mengontrol muatan kendaraan niaga yang tidak masuk ke jembatan timbang Pantura.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here