Dampak Inflasi Rendah Terhadap Dolar AS

Advertisement

Dampak Inflasi Rendah Terhadap Dolar AS

Nurlaila Fitriani
Sabtu, 02 Februari 2019
Ilustrasi via Twitter com

KabarUang.com, New York – Setelah laporan penggajian (payrolls) non pertanian AS pada bulan Januari menunjukkan inflasi upah yang rendah, kurs dolar AS juga ikut melemah pada akhir perdagangan, Jumat (Sabtu pagi WIB).

Para analis menargetkan bahwa upah pendapatan rata-rata per jam akan mengalami kenaikan sebanyak 0,3 persen, namun, kenyataannya angka pendapatan hanya naik 0,1 persen setelah rilis kenaikan lapangan kerja yang kuat, meskipun greenback melesat lebih tinggi.

Dikabarkan dolar AS menjadi lebih sensitif terhadap inflasi upah selama setahun belakangan ini. Laporan tersebut menunjukkan bahwa ekonomi AS telah menciptakan 304.000 pekerjaan baru, hasil tersebut merupakan yang tertinggi dalam 11 bulan, dan melampaui perkiraan yang hanya diperkirakan sebanyak  165.000 pekerjaan. Namun, di sisi lain angka pengangguran meningkat dan berada di posisi ketujuh bulan sebesar 4,0 persen.

“Kami mengalami kenaikan tajam dalam dolar AS berdasarkan kenaikan kuat dalam daftra gaji serta laporan keseluruhan yang solid,”ujar Eric Viloria seorang ahli strategi FX di Credit Agricole seperti yang dilansir dari wartaekonomi.com.

”Tetapi kehilangan upah mungkin memperkuat pendekatan sabar oleh Fed dan itu telah menahan dolar,”imbuhnya.

Dilansir dari wartaekonomi.com kontrak-kontrak yang terkait kebijakan suku bunga The Fed telah mengacu pada setiap peluang kenaikan suku bunga 2019, setelah Ketua Fed Jerome Powel pada Rabu (30/1) beliau mengatakan kasus kenaikan suku bunga telah melemah, dan beliau memperkirakan satu dari tiga peluang penurunan suku bunga akhir tahun.

Greenback terhadap enam mata uang utama lainnya menurun sebanyak 0,01 persen menjadi 95,5705 pada pukul 03.00 (20.00 GMT) setelah data pekerjaan, pedagang itu mengurangi spekulasi penurunan suku bunga.

Disisi lain, mata uang Euro naik 0,2 persen terhadap yen yang berubah menjadi 109,02 yen. Pasca negosiator terkemuka di AS itu melaporkan “kemajuan substansi” pada Kamis lalu (31/1) dalam dua hari pembicaraan tingkat tinggi tentang perdagangan dengan China sentimen risiko tetap agak kuat.
Diperkirakan bahwa dolar AS akan melemah pada tahun ini dikarenakan Federal Reserve berubah lebih hati-hati dalam menaikkan suku bunganya.

“Prospek untuk aset-aset AS tetap relatif tidak menarik dan investor harus berbelanja di tempat lain,”ujar Redeker selaku kepala strategi mata uang global di Morgan Stanley, London.

“Prospek pasar ekuitas AS yang lemah akan menjaga pemberi imbal hasil rendah seperti yen dan crown Swedia didukung,”tutupnya.