Berkat Freeport, Aset Inalum Melonjak Jadi Rp162 T pada 2018

0
ilustrasi via kabarnesia com


KabarUang.com , Jakarta – Induk perusahaan (holding) BUMN pertambangan mencatatkan aset perseroan pada sepanjang tahun lalu melesat dibanding tahun sebelumnya. Kenaikan aset seiring aksi perseroan meningkatkan porsi saham pada PT Freeport Indonesia dari 9,36 persen menjadi 51,23 persen. 
Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin menyebutkan total aset perusahaan tahun lalu mencapai Rp162 triliun (unaudited). Jika dibandingkan posisi pada akhir 2017 setelah Inalum resmi menjadi holding BUMN tambang, pertumbuhan asetnya mencapai 74,19 persen dari posisi Rp93 triliun. 
Sementara, jika dibandingkan posisi pada 2016, sebelum menjadi holding, aset perusahaan melonjak hampir delapan kali lipat. 
“Tahun lalu, sesudah beli Freeport (aset) jadi Rp162 triliun. Lumayan, tumbuh dari Rp22 triliun ke Rp 162 triliun dalam 18 bulan,” ujar Budi usai peresmian Institut Industri Tambang dan Mineral (Mining and Mineral Industry Institute/MMII) di Jakarta.
Tak hanya mencatatkan pertumbuhan aset, Budi mengungkapkan holding BUMN tambang pelat merah tahun lalu juga mencatatkan kenaikan pendapatan hingga 50 persen. Laba perseroan naik dari Rp42,7 triliun pada 2017 menjadi Rp64,3 triliun. 
Peningkatan pendapatan pun mendorong kenaikan laba bersih dari Rp6,8 triliun menjadi Rp8,6 triliun atau sekitar 26,4 persen. 
“Pendapatan dan laba naik karena harga (komoditas) lagi bagus,” jelas mantan Direktur Utama PT Bank Mandiri(Persero) Tbk ini. 
Tahun ini, menurut Budi, Inalum akan lebih intensif mendorong hilirisasi untuk menciptakan nilai tambah hasil tambang. Hal itu dilakukan melalui empat proyek hilirisasi yang akan dikerjakan anak-anak usahanya. Keempat proyek tersebut terdiri dari pembangunan pengolahan bauksit menjadi alumina bersama PT Aneka Tambang Tbk di Kalimantan Barat dan pembangunan pengolahan batu bara menjadi gas dan produk turunan lainnya yang akan dilakukan oleh PT Bukit Asam Tbk di Riau. Kemudian proyek pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) PT Freeport Indonesia, serta penjajakan pengolahan nikel menjadi bahan utama industri baterai. 
Selain itu, hari ini, perseroan juga resmi membentuk lembaga riset dan inovasi Institut Industri Tambang dan Mineral (Mining and Mineral Industry Institute/MMII). MMII akan mendukung Inalum dan pemangku kepentingan di industri pertambangan dan mineral untuk mengembangkan teknologi, meningkatkan kompetensi sumber daya manusia, dan menyusun rekomendasi kebijakan pengelolaan pertambangan dan industri nasional yang berkelanjutan. 
“MMII diharapkan dapat membantu mendorong dan mempercepat hilirisasi melalui sinergi dengan universitas dan lembaga riset terbaik di dalam maupun di luar negeri sehingga sektor tambang dan industri dapat memberikan nilai tambah dan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi,” pungkasnya.
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Baca Juga  Terjadi Lagi Penipuan Dikasus Fintech Ilegal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here