Antara Lingkungan dan Kelapa Sawit Harus Selaras

0
Ilustrasi via Twitter com


KabarUang.com, Jakarta – Darmin Nasution selaku Menteri Koordinator mengatakan bahwa pihaknya ingin menyelaraskan antara kebutuhan lingkungan terkait dengan kelapa sawit. Baginya, lingkungan dan kelapa sawit itu bisa berjalan bersamaan.

“Kita bisa capai dua-duanya, maka dari itu kita perlu dialog, upaya untuk menyelaraskan, sehingga studi berdasarkan fakta bisa jadi permulaan yang baik,”ujar Darmin dalam acara  konferensi pers di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, pada Senin (4/2) dilansir dari republika.com.

Pasalnya banyak berita dan informasi yang simpang siur soal kelapa sawit yang tidak berdasarkan hasilpenelitian. Maka dari itu hal ini perlu ditindaklanjuti.

Hari ini, pihak Satuan Tugas Kelapa Sawit International Union for Conservation of Nature (IUCN) menyerahkan hasil riset terkait hubungan kelapa sawit dan keanekaragaman hayati pada Menteri Koordinator itu. Selanjutnya pihak IUCN juga melibatkan pemerintah dalam tindaklanjutan perihal studi kelapa sawit ini.

Baca Juga  Dampak Perang Dagang AS-China, Akankah 2020 Krisis ?

Erik Meijaard selaku Kepala Satgas Kelapa Sawit IUCN mengatakan bahwa masyarakat yang ada memegang pedoman berdasarkan fakta yang ada. Baginya saat ini masih banyak riset yang harus dilakukan mengenai imbas kelapa sawit terhadap tujuan Sustainable Development Goals (SDG).

“Kita ingin melihat apa imbasnya kelapa sawit ini, bisa mengurangi kemiskinan signifikan, pengaruh pada lingkungan, keanekaragaman hayati, apa lebih besar keuntungannya untuk SDG atau ada pengorbanan (trade in),”ujarnya.

Pihal IUCN sendiri mengatakan bahwa kelapa sawit ini sangat dibutuhkan dunia. Faktanya bahwa pada tahun 2050 dunia masih membutuhkan minyak nabati sebanyak 310 juta ton. Minyak kelapa sawit sendiri memiliki kontribusi yang cukup besar untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati dunia misalnya di negara India, China dan Indonesia.

Baca Juga  Resmi Gratiskan Tol Suramadu, Negara Tak Pikirkan Untung Rugi

Sebanyak 75 persen kelapa sawit digunakan untuk industri pangan dan 25 persen lagi dgunakan untuk industri kosmetik seperti produk pembersih dan biofuel. Studi  ini dilakukan selama sembilan bulan dan baru selesai pada bulan Juni 2018 yang lalu.

Dilansir dari republika.com hasil studi menyimpulkan bahwa komoditas minyak nabati lainnya membutuhkan lahan sembilan kali lebih besar dibandingkan kelapa sawit. Dengan demikian, mengganti komoditas kelapa sawit dengan komoditas minyak nabati lainnya akan secra signifikan meningkatkan total kebutuhan lahan.

Baca Juga  Genjot Omset Saat Ramadhan, Perhotelan di Yogyakarta Siapkan Menu Khusus

“Jika melihat dampak kerusakan terhadap keanekaragaman hayati yang ditimbulkan oleh kelapa sawit dengan perspektif global, maka tidak ada solusi yang sederhana,”ujar Erik.

Sebagian besar dari populasi dunia menggunakan minyak kelapa sawit dalam bentuk makanan, apabila kelapa sawit di boikot, maka minyak nabati lainnya akan menggantikan minyak kelapa sawit. Disisi lain hal ini membutuhkan lahan yang sangat besar.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here