Tekan Angka Pemotongan Sapi Betina Kata Kementan Hingga 47,1%

Advertisement

Tekan Angka Pemotongan Sapi Betina Kata Kementan Hingga 47,1%

Nurlaila Fitriani
Kamis, 24 Januari 2019
Ilustrasi via Industry co id

KabarUang.com, Bogor – Syamsul Ma’arif selaku Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Ditjen PKH pada acara Koordinasi dan Advokasi Pengendalian Pemotongan Betina Produktif mengatakan bahwa Kementrian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementrian Pertanian yang bekerjasama dengan Badan Pemeliharaan (Baharkam) Polri sudah berhasil menekan angka pemotongan sapi betina hingga mencapai 12.209 ekor pada tahun 2018.

Menurut Syamsul Ma’arif jumlah penurunan sapi betina itu turun 47,1% persen jika dibandingkan dengan 2017 lalu. Beliau mengatakan, pencapaian ini melampaui target penurunan yang hanya 20 persen.

“Potensi ekonomi yang berhasil diselamatkan dari kegiatan pencegahan pemotongan betina produktif ini tidak kurang dari Rp 160 miliar,”ujarnya.

Tren penurunan sapi betina produktif ini sudah dimulai sejak semester II pada 2017 lalu, setelah dilakukannya sosialisasi, pengawasan, serta pembinaan oleh tim terpadu. Hal ini dikatakan oleh Syamsul pada acara yang digelar tanggal 23-25 Januari di Hotel Sahira, Bogor, Jawa Barat.

“Tim Terpadu ini terdiri dari personil dari pusat (Ditjen PKH Kementan), Dinas yang menangani fungsi peternakan dan kesehatan hewan di daerah (provinsi dan kabupaten/kota) kerjasama dengan Badan Pemeliharaan Keamanan (Baharkam) Kepolisian RI,”ujarnya seperti yang dikutip dari republikaonline.com.

Beliau menjelaskan, pengendalian pemotongan betina produkstif ini bekerjasama dengan Baharkam dikarenakan tindakan ini sangat kental dengan aspek penegakan hukum.

“Kegiatan sosialisasi, pembinaan dan pengawasan yang dilakukan dengan pihak Kepolisisan cukup efektif dalam menekan laju pemotongan sapi/kerbau betina produkstif,”tambahnya.

Pada 2017 lalu kegiatan pengendalian pemotongan sapi betina ini difokuskan di 17 provinsi di 40 kabupaten/kota yang angka pemotongan betinanya tinggi. Sedangkan pada tahun 2018 lalu terjadi penambahan, kegiatan ini dilaksanakan di 17 provinsi yang sama pada 41 kabupaten/kota target ditambah dengan sosialisasi di 17 Provinsi lainnya.

“Melihat progres penurunan pemotongan sapi/kerbau betina produktif yang cukup signifikan, maka tahun ini kita akan lebih intensifkan lagi kegiatan dengan menambah lokasi target pengendalian,”tambah Syamsul.

Tahun 2019 ini, Syamsul menargetkan pengendalian pemotongan betina produkstif akan dilaksanakan di 32 provinsi di 80 kabupaten/kota.

“Kita berharap dengan intensifnya kegiatan sosialisasi, pembinaan, dan pengawasan akan dapat menekan laju pemotongan, sehingga dpat menyelamatkan ternak betina produkstif sebagai target aseptor IB dan menyelamatkan pedet dari ternak betina bunting,”ujarnya dilansir dari republikaonline.com.

Kegiatan ini diadakan guna mendukung Upsus Siwab (Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting). Hal ini dilakukan berdasarkan data dari ISIKHNAS (Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional) bahwa dalam empat tahun terakhir cukup tinggi yaitu diatas 22 ribu ekor sapi per tahunnya.

Bagi Syamsul tingginya pemotongan betina bunting produktif sangat berpengaruh terhadap keberhasilan program Upsus SIWAB dengan cara mengurangi akseptor dan betina bunting seperti yan beliau katakan kepada republikaonline.com.

“Sapi betina produktif ini adalah mesin-mesin produksi untuk mempercepat peningkatan populasi sapi di Indonesia, sehingga harus kita cegah pemotongannya,”tutup Syamsul.